Senin, 28 September 2015

Prosa Bebas



MULAI JAIM


B
etapa tidak, sebagai ketua OSIS, Jaya menjadi sumber perhatian banyak akhwat. Tidak hanya adik kelas, akhwat setingkat kelas pun, bahkan satu kelas, tak mau kalah memberikan perhatiannya. Sampai suatu ketika di kelas, pernah kejadian seorang akhwat, adik kelas, berteriak menyebut nama Jaya sampai pinsan. Halo..! Wow...! seperti itukah! Di lain kesempatan, ada yang kasih surat. Pun, ada yang sampai datang ke rumah untuk sekedar ingin menyampaikan isi hatinya.

Jaya hanya manganggap semua itu sebagai bentuk simpati dan kekaguman terhadapnya. Meskipun saujana, dan bahkan telinga langsung mendengar, ada keinginan mereka yang lebih dari sekedar mengagumi. Oleh karena itu, Jaya selalu melayani setiap  akhwat, tak kecuali kawan sejenis, yang ingin mengajaknya bicara, curhat, bersenda gurau, bahkan sekedar untuk berjabat dan mencium .... tangan.
“Teng... teng... teng” suara lonceng berbunyi tiga kali. Sebuah tanda memulai pelajaran, di tahun kedua, Tahun Ajaran 1994/1995, bagi Jaya dan Tito. Amin, entah seperti apa dia memulai hari pertamanya di pesantren.

Sembari meletakan pentungan besi pada tempatnya, sebuah senyuman siang hari menyambut berbagi ke setiap siswa yang hendak masuk kelas. Senyuman itu terpacar dari wajah Pak Aceng yang kebetulan menjadi guru piket hari itu. Bahkan, senyuman itu pun mengantarkan semua guru masuk kelas.
Di depan pintu kantor seberang bangunan sana, berdiri tegak Pak Marzuki, kepala madrasah saat itu. Kepala Madrasah, berkumis tipis yang pun tak ketinggalan dengan senyuman kecilnya, itu sedang mengalihkan tatapannya ke segenap  sudut sekolah. Sebuah tatapan yang penuh makna. Makna yang menggambarkan rona tanggungjawab sebagai pemimpin yang akan dipertanggungjawabkannya kelak. Bagi Jaya, tatapannya seakan mengungkapkan sambutan selamat siang dan selamat meraih mimpi menggapai bintang-bintang di langit melalui tangga ilmu yang akan diraih dari bapak ibu guru. 

Semua siswa masuk kelas, tak terkecuali Tito dan Jaya. Oh, ya! Sekolah mereka masih numpang di bangunan sekolah Dasar Negeri Tanjunglaya Ciparay. Maka, sekolahnya masuk siang. Mereka adalah angkatan kelima di tahun kedua itu, sejak manajemen sekolah berdiri. Walaupun numpang, suasana keramaian sekolahnya tidak kalah dengan SMA Ciparay 1 kala itu.

Di bawah terik matahari, semua menumpahkan perhatiannya pada pelajaran. Sesekali, semilir angin menghembus menyelinap ke celah jendela seakan membawa kabar untuk selalu semangat menuntut ilmu.
Di kelas paling depan (kelas A1), Jaya mulai menerima pelajarannya. Qurdist, sebutan mapel Al-Qur’an & Hadits, adalah pelajaran pertama hari itu. Gurunya, Pak Hendi. Sosok yang berwibawa. Seorang ustad dan Da’i di tempat tinggal dan medan dakwahnya. Jaya, yang nyatanya terpilih menjadi KM, memimpin doa.
“Baiklah, sebelum belajar, mari kita berdoa dulu! Berdo’a... mulai!”, suara Jaya tegas seakan menyihir seluruh pengisi kelas tunduk perintahnya. Maklumlah, di tempat pengajian ia sudah pandai berpidato. Sehingga, ia sudah pintar mengatur intonasi dan  fasih menempatkan artikulasi setiap kata di mulutnya. Suasana  hening sejenak, mengantarkan kesunyian doa lirih setiap pemilik hati untuk Kekasihnya dengan penuh harap dan limpahan karuniaNya.    

Suara itu pun, barangkali, yang mulai merasuki hati seseorang. Suara Jaya seakan membuat hatinya reflek menggerakan otot dan syaraf mata indahnya melirik malu. Sekali, Jaya memergoki pandangannya. Sekali itu juga, lirikannya membuat jantung Jaya berdebar. Dia mencoba melawan debarannya. Dia tidak mau getarannya melumpuhkan hasrat dan semangatnya untuk pokus belajar. Sehari itu, Jaya berhasil mengendalikan perasaannya. Ia kuatkan pandangannya pada sorot tajam Pak Hendi yang sedang begitu bergairah memberikan penjelasan.  Ia tidak mau dibuat malu oleh gurunya.
“Astagfirullohal’adzim, Ya Alloh! berilah kekuatan! Jagalah hati ini dari syetan yang dengan licik godaan nya menelusuk lewat tatapan wanita tak berdosa itu”, suara doa dalam hati Jaya tersirat.
Jaya berusaha mengalihkan perasaannya. Ia, kemudian mencoba memberikan pertanyaan perihal Taqdir, yang sedang diterangkan Pak Hendi saat itu.
“Maaf pa, boleh bertanya?” permohonan Jaya diplomatis.
“Silahkan, Jaya!” tebas gurunya.
 “Terima kasih. Begini, Pak! Jika Alloh sudah menyediakan segala kenikmatan hidup, dilangit dan di bumi. Alloh, kemudian telah menentukan rizqi, jodoh, dan Azalnya. Maka, untuk apa manusia berusaha!”, pertanyaan Jaya idealis, seperti tak  terkirakan pa Hendi.

Jaya mengira, Pak Hendi akan menjawabnya langsung. Apa yang terjadi! Beliau melemparkan terlebih dahulu pertanyaan itu pada kawan-kawan. Alloh seakan sedang memberi teka-teki atas do’a Jaya. Seketika itu juga, akhwat itu yang mencoba menjawab pertanyaannya. Sontak, dua pasang mata mereka saling memandang. Jaya memandang kosong wajahnya, sembari mendengar suara indahnya mengantarkan analisa jawaban atas pertanyaan Jaya. Akhwat itu pun, seakan tak mau membiarkan kesempatan menerima perhatian serius Jaya, dalam suasana diskursif. Jaya mencoba menepis jawabnnya. Namun, Ia mencoba kembali menangggapi tepisan Jaya.

Diskusi pun berlanjut, sampai pada kesimpulan yang diambil Pak Hendi.
Rika, itulah nama singkat panggilan teman sekelasnya. Nama itu pun yang mulai mengisi buku coretan hariannya. Di senja  menjelang tidur, saat bulan bintang mulai menemani malam, Jaya biasa menumpahkan segala isi hati atas setiap informasi yang lalu lalang menghampiri, dan kejadian yang dialaminya setiap hari. Termasuk pengalaman siang tadi yang baru pertama kalinya membuat jantugnya bergoyang.
Sesekali  matanya memandang atap mencari kata yang seakan berkeliaran. Namun kali ini, kata-kata  yang ia cari bercambur baur dengan nama itu.  Sekali nama itu muncul, mudah sekali gambaran realitas nyata wajah indahnya menghiasi langit-langit kamar. Hampir saja Jaya terlelap dalam bayangnya. Untung tidak sampai paranoid. Kekuatan hatinya dapat menjaga, sehingga bayangan wajahnya tidak terus menerus bermain-main di fikirannya.

Rika adalah seorang wanita berjilbab, cantik, kelihatan gaul, tapi juga pintar berlogika. Jaya baru sadar, kalau halaman hatinya mulai tertulis namanya. Jaya mengakui, ia manusia biasa, punya hasrat dan keinginan. Jaya sadar, ia mulai menarik sebagian perhatian padanya. Namun ia mencoba untuk menjaga diri dari penilaian jelek orang. Ia pun tak ingin mengabaikan nilai-nilai yang sudah tergariskan dalam pedoman hidupnya. Sepertinya, Jaya ingin tetap berada pada tiga tata nilai: kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Sehingga, keindahan yang baru mulai menghiasi hidupnya tidak ingin tergiring pada kebalikan dua tata nilai, kesalahan dan keburukan. 

Malam agak pekat, kantuk pun mulai merenda. Seraya berdoa, Jaya mulai menutupkan mata yang sudah cukup lelah.

Rabu, 09 September 2015

Resensi Buku



 RESENSI BUKU :  
Ridwan Taufiq


Judul             : Pak Guru
Penulis          : Awang Surya
Penerbit        : Ersa
Edisi             : Januari 2014, cetakan I
Tebal            : 328 halaman
Jenis             : Fiksi

B
uku ini judulnya sederhana dan singkat, Pak Guru. Kesederhanaannya seakan menyimpan mutiara yang amat berharga. Akan menjadi teladan bagi para guru, dengan menelusuri perjalanan kisah tokoh guru, bernama MUSA.
Novel ini menceritakan sosok guru yang ideal. Idealitas yang dimaksud, bukanlah sebuah tingkatan kualitas sempurna sebagai seorang guru super yang tidak memiliki kekurangnan. Cerita ini, justru, menggambarkan sosok guru sebagai manuisa biasa yang tidak lepas dari sifatnya sebagai makhluk tempat lupa dan salah.
          Empat puluh delapan episode ceritanya, disuguhkan dengan bahasa sederhana. Kesederhanaannya membawa pembaca tertarik mengikuti alur cerita. Kesederhanaannya pun dilekatkan pada watak dan karakter tokohnya.
          Awal kisah, MUSA adalah keturunan ulama. Namun ia mengambil jalur pendidikan, berbeda dengan kakaknya, Haji Husin, sebagai pelanjut dakwah orang tuanya. Adiknya, Mahmud, mengambil jalur umum dan bekerja di departemen pertanian, Bojonegoro. Sepeninggal kakaknya, MUSA seakan menerima wasiat. Wasiatnya, bahwa dakwah tidak harus dengan ceramah dan khutbah di mimbar. Dakwah dapat melalui jalur pendidikan.  Maka inilah idealisme dan jalan hidup MUSA, apalagi saat ia diberi tugas besar menjadi Kepala Sekolah.
          Perjalanan saat menjadi kepala sekolah, adalah saat MUSA mulai menghadapi berbagai masalah. Dari mulai teror ban sepeda, tuduhan atas murid-muridnya mencuri pisang, pisah dengan istrinya, dirundung masa indah dengan kawan wanita lama yang kembali datang, sampai teror sepedah dirusak dan lemparan batu diatas genteng di tengah malam. Itu semua yang membuat novel ini kaya akan koflik. Akhir cerita, setelah melalui lika-liku perjalanan yang hampir saja melepaskan tanggungjawab dan pergi pindah ke Bojonegoro, MUSA mendapatkan kebahagiaan dengan diterimanya ALFAN, anaknya, masuk sekolah negeri. Kebahagiaannya bertambah saat istrinya kembali, berkumpul lagi dengan ketiga anak lainnya; Wahyu, Nur, dan Tina. Tambah bersyukur lagi, MUSA dapat membeli Motor baru hasil penjualan kambing ternaknya, tanpa harus pinjam ke Koperasi Pegawai Negeri (KPN). Tentang motor, menjadi sekelumit episod menarik melalui beberapa tokoh lain dalam novel ini.

Sabtu, 05 September 2015

Puisi



REFLEKSI

Cengkram hatiku dengan borgol suci. Basahi jiwaku dengan air wudhu. Penuhi bibirku dengan kalimah toyibah. Pandangkan mataku pada cahaya keindahan. Perdengarkan telingaku pada bisikan ilham. Pusatkan fikiranku pada bayangan bias ilmu. Ikatlah diriku dengan temaliemas karunia. Hadirkan padaku lukisan indah MUHAMMAD. ‘kan kucium Ia dengan pelukan erat. Detakkan jantungku seiring loncatan tasbih. Anggukan kepalaku pada kebenaran absolut. Kerutkan keningku di setiap sudut persoalan. Kosongkan perutku dari barang haram. Kenyangkan ia dengan segudang suara berarti. Bersihkan ususku dengan minuman bismillah. Langkahkan kakiku pada haluan tertuju. Injakkan ia di atas tanah ciptaan Tuhan. Ayunkan tanganku seayun perahu nabi Daud. Hembuslah aku dengan angin sorga yang sejuk. Keluarkan keringatku yang manis di sekujur badan. Helakan nafasku dalam relung kasih Tuhan. Impikan diriku bertemu Ibrahim. Biar ku diajari cara menemukan Tuhan. Datangkan bayangan Musa. Agar dengan tongkatnya ku dipukuli berkali-kali. Kenalkan aku pada bunda Maryam ibu Almasih. Agar ku diajari mencari istri sabar seperti dirinya. Temukan aku dengan Yusuf. Supaya ku tahu cara ia memelihara ketampanan dan godaan. Ku rindu kekuatan Ayub menahan sakit. Ku mengharap tumbuh jiwa sabar Yunus dimakan ikan.

CERPEN



Meraih Mimpi Menyerta Doa

A
ku tergopoh masuk kamar dan mengunci dari dalam. Derai air mataku bersimbah tak tertahan saat kujatuhkan tubuhku di kasur. Sekali saja lap tangan menyeka, air mata tak kuat keluar deras. Sungguh, kata-kata yang keluar dari mulut temanku itu begitu menikam, sakit, tak dapat membendungnya.
-o0o-
Pagi ini Aku tahan rasa wahan dalam hati ini. Kata-kata yang keluar dari mulut sahabat dekatku, telah coba kulupakan. Semoga tidak menghalangi keberangkatanku ke sekolah. Semalam selepas sholat Isya, kusampaikan doa lirih pada Tuhan agar senantiasa memberikan kekuatan dalam setiap perjalanan hari-hariku menuntut ilmu.
“Ajeung, sarapan dulu, nak!” suara mamaku dari ruang makan memanggil, mempercepat gerakku merapikan baju seragam yang kupakai.

Aku tak menjawab dengan kata-kata, karena mulutku agak keluh pagi ini. Sengaja tak kujawab, agar mamaku tak melihat perubahan suara bekas tangis batinku semalam. Aku coba tersenyum dan lekas mendekat nasi goreng di piring yang sudah terhidang di meja.
Mamaku memang jago memasak. Tak salah kalau banyak pelanggan memesan katering pada mamaku. Segala jenis makanan, berapapun pesanannya, mamaku siap melayaninya. Terutama masakan paforit wali kelasku yang dulu pernah dikirim saat Ultahku, Nasi Ayam Bakar.   
“Terima kasih, Tuhan! Pagi ini Engkau mengijabah   doaku semalam. Dengan hidangan sarapan buatan mamaku, telah memalingkan perasaan yang membatin hatiku semalam” perasaanku.

Jam dinding di tembok ruang tengah rumahku menunjukkan pukul 06.15. Aku harus segera berangkat lebih pagi. Jadwal piket yang biasa kukerjakan sepulang sekolah bersama teman-teman, tak sempat terpikirkan karena kejadian kemarin. Aku pamit berangkat dan mencium punggung tangan mama seraya kuhirup wangi cintanya. Kebetulan papa sudah pagi buta, mempersipkan warung nasi di jalan depan sana, agak jauh.
-o0o-

Suara bel bernyanyi tiga kali. Anak-anak faham dan langsung menuju kelas.
“Oh, ini juara satu baca puisi”, ledek sahabatku kembali menerjang.
Aku tidak mengerti dengan sahabatku itu. Padahal sebelum ada lomba baca puisi kami bertiga, Lia dan Zahra, adalah sahabat akrab. Tetapi setelah aku mendapat juara I, sifat sahabatku Lia menjadi berubah. Awalnya Zahra. Setelah pengumuman kejuaraan lomba Baca Puisi, Zahra jadi berbeda juga, namun tidak kelamaan. Walau agak kelihatan malu untuk biasa lagi. Berbeda dengan Zahra, Lia agak keterlaluan. Mulutnya kadang terlalu ringan mengucapkan kata-kata yang bagiku sangat tajam setajam sembilu mengiris.

“Lia, apa sih maksudmu berkata begitu?”, suara hati yang sedari kemarin bergemuruh kini tak kuasa tertahan.
“Halo, kaya ada yang bicara ya!”, ucapan Lia sambil memalingkan muka ke antah berantah.
“Iya, Aku nanya apa maksud perkataanmu itu?”. Kataku agak emosi.
“Mhm....” jawabnya.
Lia seakan tidak peduli pembicaraanku. Ia berlaga pilon.
“Sudahlah Jeung, jangan pedulikan dia!”, Zahra yang sedari tadi memperhatikanku mencoba menenangkan. Aku  tidak kuat diperlakukan seperti ini. Aku lekas keluar kelas. Bergegas  menuju guru BK ingin mencurahkan isi hatiku.
“Tuh, yang mau ngadu sama guru”, katanya lagi.
Kalimat itupun sempat terdengar dari luar saat aku menyusuri halaman kelasku menuju kantor guru BK.
Ternyata yang kulihat wali kelasku guru bahasa indonesia, Pak Jaya, yang juga pembimbingku dalam membaca puisi.

Maka aku minta izin menyampaikan curahan hatiku. Alhamdulillah beliau bersedia. Aku ceritakan apa yang terjadi. Mulai pada saat kepala sekolah mengumumkan kejuaran lomba membaca puisi tingkat gugus sabtu lalu. Aku, Zahra, dan Lia, sebagai delegasisekolah, ternyata Aku yang mendapat juara kedua tingkat gugus. Tapi ada apa dengan kawanku! Terutama Lia.

“Sekarang, kamu pokus aja menghadapi seleksi baca puisi tingkat kabupaten!” perintah pak Jaya mencoba mengalihkan pikiran dan hatiku menghadapai sabtu mendatang. “Dan Tetap Semangat!”. Tambahnya memotivasi.

Untuk setingkat anak SMP, kadang permasalah akan lerai dengan sendirinya. Tak perlu mengerahkan fikiran dan logika bagaimana memudarkannya. Masalahnya telah jelas, mana yang salah dan mana yang benar. Sebab ini menyangkut watak kurang baik yang selalu timbul tenggelam di keremajaan anak-anak SMP. Kata-kata panjang pak Jaya itu terus kuingat dan kubawa sampai di rumah.

Malamnya aku buka buku harianku yang sudah dua hari tertutup kaku, membisu tidak kusapa. Kutulis semua pengalaman dan perasaanku dua hari ini. Termasuk rasa bahagia yang disusul kekesalan, setelah pengumuman juara tingkat gugus oleh kepala sekolah selepas upacara hari senin.

Kutulis harianku ....

Rabu,  1 Oktober 2014.
Ada kata-kata terdengar yang tak sanggup difahami. Karena nada suara dan artikulasi ucapan yang tersampaikan amat berbeda. Seakan, hati tak ingin akrab ketika kata-kata itu menghampiri. Kerap kali hati meronta. Ruangannya seakan menyempit, karena terlalu banyak kata-kata lain yang lebih prioritas dan serasa lebih perlu disapa dan dimengerti.
Kata-kata itu jarang terdengar. Namun setiap kali datang, deras maknanya seperti tak terbendung. Menimbulkan beban jiwa yang tak terperi. Malu pada diri yang seakan tak mau menerima situasi ini. Nyata sekali, masih ada ego yang menghalangi keterbukaan hati untuk menerima sejuta kata tanpa terkecuali. Struktur Maknanya yang teramat dalam. Mungkin ini ...


 Tit .... tit ... tit ...
Tiba-tiba suara handphonku bernyanyi membuntukan catatanku. Kaget ketika kubuka nama pengirimnya, LIA. Ternyata sms dari temanku itu.
“Ass. Jeung! Aku mau minta maaf atas kelakuanku dua hari ini. Aku sadar, aku salah. Kamu memang layak jadi juara, Jeung. Aku iri dan malu sama teman-teman sekelas. Namun semua itu kutupi dengan mencuri perhatian dan memprofokasi teman sekelas. Agar aku tidak kelihatan malu. Maafkan kata-kataku yang tak layak keluar dari mulutku ... “

Tit .... tit .... tit ....
Suara ponselku bernyanyi kembali. Ternyata ...

“ ... Aku silap, jeung! Sebetulnya aku haus perhatian. Kamu tahu sendiri, aku kurang perhatian ortuku, terutama ibu. Ia pergi bekerja ke luar negeri sejak aku kelas 4 SD. Aku bisa merasakan perhatian dalam tempo 2 atau 3 tahun, belum sebulan ibuku pergi lagi.  Sekali lagi, maafkan aku, ya Jeung!”
Aku terhenyak dengan sms Lia. Kekesalanku berubah menjadi rasa kasihan. Maka kujawab ...
“ Oh, ya Lia. Aku maafin. Aku faham tentang kamu. Karena kamu tuh teman dekat aku. Aku tidak ingin persahabatan kita dirusak karena kurangnya saling memahami. Aku tidak mungkin tidak memafkanmu, Lia!”

Hatiku menjadi lega. Besok aku ingin temui Lia dengan penuh bahgia dan senyuman yang tak akan kukulum sedetikpun, lalu kutaburi dengan semangat menjelang seleksi tingkat Kabupaten Sabtu ini.

Malam agak pekat, kantuk pun mulai merenda. Seraya berdoa, ku mulai menutupkan mataku yang sudah cukup lelah menampung dan menumpahkan derai air mata.

                                                    -o0o-


 

OPINI : Membaca Buku Senikmat Pizza

  Membaca Buku Senikmat Pizza Oleh: Ridwan Taufiq   “Pak, saya sudah membaca,” sebuah jawaban lantang itu sering terdengar di kelas, k...