Kamis, 09 Juli 2026

Fenomena Siswa: Menulis Terasa Berat, Ngobrol Begitu Ringan.

 

Oleh: Ridwan Taufiq


“Pak, saya tidak bisa menulis”

“Ya, itu. Tulislah kalimat itu,’saya tidak bisa menulis’!”

“Kok, begitu, Pak?”

“Iya. Coba tulis saja!”

“Kemudian lanjut tulisannya,’kenapa saya tidak bisa menulis?’, terus saja tanyakan dan kamu jawab sendiri di dalam tulisan itu. Akhirnya kamu akan bisa menulis. Karena sebenarnya kamu sedang menulis.”

 

Adegan dramatis itu kerap terjadi saat pelajaran Bahasa Indonesia pada elemen menulis.  Dimana seorang guru menghimbau anak didiknya untuk mebiasakan menulis buku harian setiap hari jelang tidur. Cukup beberapa kalimat. Tiga atau lima kalimat. Lima baris dalam kebiasaan sebutan mereka. Entah mereka mengerjakan atau tidak.

 

Ada fenomena menarik yang muncul saat siswa disuruh menulis, ialah “mandek”. Sementara saat sebelumnya mereka ngobrol begitu ramainya. Mereka berbicara karena ada lawan bicara. Sementara menulis, anggapannya tidak ada lawan menulis.

 

Sesungguhnya di pelajaran teks deskripsi, siswa ditugaskan membawa objek sebagai lawan menulis. Objek bisa menjadi lawan dalam kegiatan menulis. Objek deskripsi bisa sebuah benda kesukaan: jam tangan, boneka, buku, dan benda kesukaan lainnya. Ketika benda itu di bawa ke kelas, mereka tetap mandek. Tulisan mereka biasanya, “Ini boneka saya. Warnanya putih. Saya suka,” sudah. Berhenti. Apa masalahnya?

 

Yang jelas, begitu kontras antara lisan yang begitu lancar, dengan tulisan yang selalu buntu. Sehingga bagi saya muncul pertanyaan retoris: “Kenapa ide mereka deras saat ngobrol, tetapi sulit saat menulis?”

 

Apakah disebabkan, karena ngobrol adalah proses alami? Sementara menulis merupakan proses yang harus diciptakan?

 

Siswa dan manusia pada umumnya spontan saat berbicara. Kendatipun pembicaraannya kemana-mana, dan mungkin tidak direncana. Sehingga pembicaraan terasa ringan dan tidak harus rapi.

 

Sementara yang kita ketahui kalau menulis itu harus teratur, perlu struktur, ada pemilihan kata, dan harus ada bentuk. Sehingga siswa tidak terbiasa memindahkan ide atau pikirannya ke dalam bentuk teks.

 

Di sinilah letak menulis menjadi terasa berat bagi siswa. Dimana mereka harus: memikirkan ide, menyusun kalimat, memperhatikan ejaan, memperhatikan bentuk, dan lain-lain. Inilah yang barangkali membuat siswa cepat lelah secara kognitif, bahkan sebelum mereka memulai.

 

Hal lain yang dihadapi siswa ketika menulis adalah takut salah atau dianggap jelek. Ketika ngobrol, mereka ringan karena tidak dinilai, sehingga terasa aman. Sementara menulis ada penilaian, sehingga terasa ada tekanan. Maka, apa yang terjadi? Adalah overthingking dan memilih diam daripada dinilai salah.

 

Atau barangkali karena tidak terbiasa menulis sehingga menjadi terasa berat. Seperti halnya ngobrol yang menjadi kebiasaan dan terasa alami. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, awalnya mengalami kesulitan. Sebagaiman sebagian kecil siswa yang diawal pergaulannya terlihat terasa sulit untuk bisa ngobrol dengan temannya. Tetapi lama kelamaan ia terus berhadapan dengan temannya dan ngobrol. Sehingga menjadi terbiasa. Barangkali demikian pula dengan menulis. Jika diawal terasa sulit, jika terus menerus akan terasa mudah. Bahkan akan menjadi kebiasaan.

 

Disinilah barangkali siswa harus dilatih terus menerus dalam menulis agar menjadi terbiasa. Untuk menjadi kebiasaan, maka perlu tahapan dalam proses pembiasaannya. Kalau realita yang ada bahwa siswa sering disuruh menulis sebuah paragraf, misalnya, tanpa ada tahapan, maka bisa jadi sulit.

 

Kemudian topik tidak dekat dengan dunia siswa. Ngobrol, tentu saja tentang hal yang mereka alami. Sementara menulis, sering pada topik yang “jauh” dari dunianya. Akibatnya, ide mereka tidak muncul. Tulisan mereka terasa dipaksakan.

Menulis terlalu cepat masuk ke “Formalitas”. Siswa belum selesai menuangkan ide, tapi sudah dituntut: rapi, baku, sesuai kaidah. Menurut penulis, ini bisa mematikan keberanian mereka mengawali menulis.

 

Maka pertanyaan refleksi bagi kita sebagai guru : Apakah kita terlalu cepat menilai? Kurang memberi ruang eksplorasi? Langsung ke hasil, bukan proses?

 

Maka harus ada jalan atau jembatan yang bisa menghubungkan ngobrol ke menulis. Mengubah ngobrol menjadi bahan tulisan bisa dengan diskusi, misalnya. Atau dengan tulis ulang dengan pertanyaan pemantik, “Kamu tadi bilang apa? Coba tulis!”

 

Kemudian mulai dengan satuan bahasa yang terkecil. Bisa mulai dengan satu kalimat. Buatlah satu kalimat dengan menggunakan kata “kursi”! Rangkaikan kata-kata kunci berikut: ibu, pasar, sayur, adik. Maka, mereka bisa merangkaikannya dengan banyak ragam sesuai yang mereka fahami: Ibu pergi ke pasar membeli sayur bersama adik; Ibu berangkat ke pasar menjual sayur bersama adik; Ibu pergi ke pasar membeli sayur bertemu dengan adik; dengan beragam kalimta lainnya. Terus begitu. Tidak langsung disuruh menulis satu paragraf. Biarkan tulisannya terasa kasar terlebih dahulu.

 

Menulis bukanlah bakat, tetapi kebiasaan.  Siswa sebenarnya punya bahan untuk menulis tetapi belum terbiasa dan kurang dilatih terus menerus untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Lagi-lagi, mungkin masalahnya bukan siswa tidak bisa menulis, tetapi kita belum menemukan jalan yang dapat menghubungkan dunia lisan mereka ke dunia tulisan.

Kamis, 02 Juli 2026

Realita Siswa Membaca Terasa Berat, Benarkah?

 Oleh: Ridwan Taufiq


Udara cerah, mentari mulai menampakkan sinarnya, menyelinap kaca jendela menghangati ruang-ruang kelas sederhana. Angin setia mengipas kesegaran ke setiap sudut kelas dengan kibar sang saka Merah Putih di tiang sepanjang dua meter menjulang ke langit. Ketika itu, penulis melintas setiap kelas menuju kelas di ujung sana, mengisi jam pelajaran.

Pagi itu di kelas, penulis meminta siswa membaca sebuah tek deskripsi berjudul “Pantan Terong yang Instagramable”. Teksnya tidak Panjang, hanya dua halaman – sekitar 250 atau 300 kata. Respons mereka seragam, hampir seragam: menarik nafas, wajah datar, dan beberapa siswa nyeletuk, “Pak, ini panjang banget, ya?”

Padahal sepanjang lintasan kelas, di saat yang sama penulis masih teringat melihat siswa-siswi ketawa-ketiwi, sepertinya sedang membaca chat group. Kesempatan lain barangkali mereka sangat serius mengikuti cerita di medos. Bahkan mungkin hafal alur video yang mereka tonton semalaman. Tidak tampak wajah datar seperti “alergi membaca”.

Benarkah Siswa Malas Membaca?

Pertanyaan: benarkah siswa malas membaca? Ini menimbulkan pertanyaan susulan: Apakah kita yang salah cara menyajikan bacaan yang tepat? Asumsi penulis, yang berat bukan aktivitas membacanya. Namun, cara kita memperkenalkan bacaan itu sendiri.

 Di sekolah, membaca sering dilakukan dalam bentuk yang seragam. Buku yang seragam. Penerbit yang seragam pula. Teksnya panjang, bahasa baku, dan pertanyaan yang memaksa jawaban benar. Siswa diminta memahami, menganalisis lalu menjawab. Semua terasa seperti kewajiban yang harus segera diselesaikan. Bukan sebuah pengalaman yang ingin “dinikmati”.

Sementara di luar kelas sana, bahkan di rumah, siswa berhadapan dengan teks yang beragam. Tulisan yang berbeda sama sekali. Teks yang mereka temui di gawai cenderung ringkas. Tulisan yang mereka baca dekat dengan keseharian. Dan pasti sesuai dengan konteks yang mereka fahami. Rasa terbebas dari paksaan, dengan memasang wajah ceria. Tidak ada tekanan untuk “harus benar”. Yang ada hanya rasa ingin tahu dan atau sekedar hiburan. Nikmat rasanya. Di sinilah, penulis melihat ada jarak!

Di era kecerdasan buatan, dunia bergerak begitu cepat. Begitu pun dengan siswa. Dunianya ikut bergerak dengan cepat. Di era transformasi digital, siswa lebih visual dan interaktif. Siswa bisa mengetahui berita viral lebih cepat. Mereka bisa mengingat tren di media social. Mereka aktif berkomentar di dunia maya.

Sementara dunia kelas masih sering kali bertahan di dalam pola linier dan satu arah. Kita memaksa mereka masuk ke dunia teks yang teras asing – bukan dunianya. Mereka perlu jembatan pada dunia yang sudah sangat mereka kenal. Dan akibatnya, membaca teras berat.

Atau, Kita yang Salah Menyajikan!

Anthony Trollope, seorang novelis Inggris, pernah berkata, “Bahwa Saya bisa membaca dan merasa bahagia saat membaca, adalah sebuah berkah yang besar.” Bisakah kita mengondisikan agar siswa membaca merasa bahagia!

Bila kita lebih jujur, siswa sebenarnya tetap membaca. Siswa kita membaca percakapan, membaca situasi, membaca perasaan dalam konflik, memahami alur dalam cerita digital. Bahkan, mereka aktif mengomentari segala hal di dunia digital. Hanya mungkin, aktivitas membaca mereka kerap kita tidak mengakuianya sebagai bagian proses belajar.

Kita barangkali sering terjerumus pada sebuah anggapan bahwa membaca itu harus “serius”. Membaca harus dalam bentuk teks yang panjang. Menggunakan bahasa formal dan analisis yang mendalam. Bagi penulis, tentu saja itu tidak salah. Namun, ketika hal itu menjadi satu-satunya jalan masuk, banyak siswa akan merasa tertinggal sebelum benar-benar memulainya. Maka, mungkin yang harus kita ubah bukan tujuan atau tuntutan akhir, melainkan jalannya.

Keterlibat Guru dan Orang Tua Siswa

Peran kita sebagai guru tentu saja menjadi penting. Bukankah peran guru tidak sekadar pemberi materi, tetapi fasilitator berpikir. Kita berperan sebagai pembimbing literasi dan pengarah makna. Sebagai guru, kita dituntut inovatif. Agar inovatif, tepat sekali jika kita banyak berekplorasi dengan berbagai pertanyaan: bagaimana jika membaca itu dimulai dengan sesuatu yang lebih dekat? bagaimana jika teks yang diberikan memiliki kaitan secara langsung dengan pengalaman siswa? bagaimana jika membaca tidak harus diikuti dengan pertanyaan yang menekan, cukup dengan memberi ruang untuk bereaksi dan berpendapat? 

Pertanyaan demi pertanyaan ini tidak selalu mudah untuk dijawab. Sebagai guru, kita terikat pula dengan kurikulum, capaian pembelajaran, dan keterbatasan alokasi waktu. Namun, setidaknya kita sediakan ruang kecil untuk beresperimen, menggeser sedikit cara penyajian, tanpa harus mengubah tujuan.

Penulis menemukan, bahwa ketika siswa merasa releat atau terhubung dengan teks yang dibaca, mereka tidak lagi sibuk menghitung-hitung jumlah paragraf. Setiap paragraf dikupas, diam sejenak dan dinikmati. Mereka mulai membaca dengan rasa ingin tahu, bukan sekedar kewajiban. Pada tahap ini, membaca tidak lagi terasa berat.

Barangkali selama ini kita begitu cepat menyimpulkan bahwa siswa tidak berminat membaca. Padahal, bisa jadi mereka belum menemukan alasan mengapa mereka membaca teks yang kita berikan. Maka, sebelum nebgatakan “anak-anak sekarang melas membaca”, betapa tidak jika kita bertanya sejenak: apakah bacaan yang kita hadirkan sudah cukup dekat dengan dunia mereka. Ataukah justru kita yang belum cukup berusaha mendekatkannya!

Sabtu, 18 April 2026

OPINI : Membaca Buku Senikmat Pizza

 

Membaca Buku Senikmat Pizza

Oleh: Ridwan Taufiq

 

“Pak, saya sudah membaca,” sebuah jawaban lantang itu sering terdengar di kelas, ketika mendapat tugas membaca senyap. Namun, ketika ditanya kembali isi bacaan itu, siswa terdiam. Padahal baru saja selesai membaca satu halaman. Ketika disuruh membaca nyaring, titik dan koma dilompati tanpa jeda. Padahal, justru pada jeda itulah sebenarnya proses berpikir terjadi. Bacaan sedang benar-benar dinikmati. Sebagai guru, penulis beranggapan bahwa mereka membaca belum sepenuhnya dimaknai sebagai proses memahami. Siswa masih memandang membaca sebagai kegiatan mengeja kata. Ketika siswa diminta membaca nyaring, suara mereka seperti motor tanpa rem, melaju tanpa jeda. Titik dan koma ditabrak begitu saja, tidak berhenti. Tidak ada ruang mereka untuk berpikir. Tidak ada rasa saat mereka membaca. Dan tentu saja tidak ada waktu mereka untuk memahami.

Fenomena ini barangkali tidak terjadi pada semua siswa. Namun cukup untuk membuat kita merasa khawatir. Bahwa membaca seolah hanya maknai sebagai aktivitas mengeja kata, menyuarakan huruf, dan menyelesaikan kata demi kata setiap kalimat. Menelusuri stiap paragraph dalam sebuah wacana teks. Padahal, membaca sejatinya bukan sekadar melafalkan, melainkan memahami. Di sinilah penulis anggap letak persoalannya.

 

Apa membaca itu?

Membaca adalah proses berpikir. Ketika mata menelusuri setiap teks, sesungguhnya otak sedang bekerja. Ia sedang menafsirkan, menghubungkan, dan memaknai di balik teks itu. Jeda pada titik dan koma bukan sekadar aturan tanda baca, melainkan ruang bagi pikiran untuk menikmani, mencerna. Tanpa itu, maka membaca akan kehilangan maknanya.

Membaca sejatinya adalah aktivitas kognitif. Ia melibatkan pemahaman, penafsiran, dan refleksi. Tanpa itu, membaca hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Untuk menumbuhkan minat baca, penulis rasa perlu pendekatan yang lekat dengan pengalaman siswa. Salah satu diantaranya adalah analogi sederhana, yaitu membaca seperti menikmati pizza.

 

Lalu, Bagaimana membuat membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan senikmat Pizza?

Analogi ini mungkin sederhana dan membumi: sepotong pizza. Ini hanya sebagian analogi, bisa pada makanan lain yang memilki daya tarik selera anak. Yang diperlukan adalah mengubah cara pandang. Bayangkan membaca seperti menikmati sepotong pizza hangat. Pizza yang sedang terhidang lezat memiliki daya tarik. Aroma yang menggoda, tampilan yang menarik, dan tentu saja rasa yang pasti memuaskan. Buku yang baik pun demikian. Judul yang memikat, tampilan yang menarik, serta isi yang relevan akan membuat siswa tertarik untuk membaca. Saat kita melihat pizza, sebelum mencicipinya pun, kita pasti sudah tergoda. Aroma dan tampilan yang menggugah selera, dan keinginan untuk segera menyantapnya begitu kuat. Membaca buku, pun seharusnya seperti itu.

Maka, buku yang baik adalah buku yang “mengundang selera”. Judul yang menggoda, seperti aroma pizza yang tercium dari kejauhan. Sampul buku yang menarik, seperti tampilan pizza yang membuat mata sulit berpaling. Dan isinya, tentu saja harus lezat; mudah dipahami, relevan, dan akan memberi kepuasan batin setelah membacanya. Di sinilah, membaca akan teras nikmat.

Lebih dari itu, buku adalah “makanan ruhani”. Ia tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan akal pikiran. Seperti makanan bergizi bagi tubuh, buku yang baik mengandung “nutrisi” yang menyehatkan. Nutrisi itu berupa gagasan, nilai, pelajaran, dan hikmah yang mampu menggugah dan menggerakkan pikiran kita. Sebagai “makanan ruhani”, buku pun akan memberikan nutrisi lain berupa pengetahuan dan nilai kehidupan. Buku yang berkualitas akan mampu menggerakkan pikiran dan menumbuhkan sikap kritis.

Maka, analogi buku yang “selezat pizza” adalah buku yang: akan menggugah rasa ingin tahu sejak dari judulnya; disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami; dekat dengan kehidupan pembaca; membuat pembaca ingin terus melanjutkan; dan tentu saja meninggalkan kesan mendalam setelah selesai dibaca. Sebaliknya, buku yang terasa “hambar” akan sulit menarik minat, terutama bagi siswa yang sedang belajar mencintai membaca. Ia akan membosankan. Sulit disentuh, apalagi di”habiskan”. Karena itu, penting memilih buku yang tepat, terutama untuk siswa. Buku harus sesuai dengan usianya, dekat dengan kehidupan mereka, dan yang pasti mampu membangkitkan rasa ingin tahu mereka.

 

 

 

Peran Guru (dan Orang Tua), seperti apa?

Bagi penulis merasa, di sinilah peran penting guru (dan juga orang tua). Kata DR Drajat, seorang ahli Hypnoteaching, bahwa peradaban pendidikan tidak dibentuk dari Gedung-gedung yang megah, tetapi melalui ruang kelas kecil yang penuh makna. Guru mendapat peran sangat penting di dalam kelas untuk menumbuhkan selera literasi. Guru tidak hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga membimbing siswa bagaimana menikmati bacaan. Meyakinkan mereka bahawa setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, memberi waktu mereka untuk menikmati dan memikirkan apa yang sedang mereka baca. Bahawa setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, membuat mereka merasa bahagia dan penuh dengan ide-ide yang baru. Begitu pula dengan peran orang tua di rumah.

Perintah “Iqro” yang menjadi awal tradisi literasi kita, juga mengandung makna mendalam. Ternyata membaca tidak hanya teks, tetapi juga kehidupan, peristiwa, dan kenyataan hidup di sekitar kita. Membaca bukan sekadar keterampilan, melainkan kebutuhan. Jika siswa kita sudah merasakan betapa “nikmatnya” membaca, maka literasi akan tumbuh secara alami. Bukan karena paksaan, tetapi karena kebutuhan. Bahkan dalam konteks yang lebih luas, membaca adalah bagian dari literasi. Membaca adalah sebuah kemampuan dasar manusia dalam berbahasa, setelah menyimak dan berbicara, yang kemudian bermuara pada menulis. Membaca yang baik akan melahirkan pemahaman, dan pemahaman akan melahirkan gagasan.

Sebagaiman penulis katakan, perintah pertama yang diturunkan kepada manusia adalah “Iqro”, bacalah. Namun membaca di sini bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca kehidupan: memahami fenomena, peristiwa, dan tanda-tanda alam semesta. Maka, membaca sejatinya adalah upaya memahami: memahami diri; memahami dunia; memahami kehidupan. Jika membaca sudah sampai pada tahap itu, ia tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Bahkan, bisa menjadi sebuah kenikmatan seperti pizza. Pertanyaannya, sudahkah kita menghadirkan buku-buku yang mampu membuat siswa “lapar” untuk membaca? Atau jangan-jangan, selama ini kita hanya menyuruh mereka makan, tanpa memastikan apakah hidangannya menggugah selera?

Maka, dapat dipastikan bahwa perubahan besar peradaban Pendidikan tadi, serta menyongsong Indonesia melahirkan generasi emas tahun 2045, bisa dimulai dari hal sederhana, seperti: memilihkan buku yang tepat, membimbing cara membaca yang benar, dan menumbuhkan rasa bahwa membaca itu nikmat. Memulai dari satu halaman. Satu buku. Kemudian Satu rasa. Sampai akhirnya, siswa benar-benar merasakan bahwa membaca bukan sekadar kegiatan yang dipaksakan, melainkan kebutuhan yang dirindukan, dinikmati, dan selalu ingin diulang kembali. Kalau siswa sudah “lapar” membaca, kita tidak perlu lagi menyuruh mereka. Mereka akan mencari buku dengan sendirinya. Pertanyaannya sekarang: sudahkah kita menyajikan “bacaan selezat pizza” untuk mereka!?

 

 

Kamis, 03 Juli 2025

Puisi

 Anakku,

ooh .... ternyata kau sedang menatap bintang, nak!
Betapa kelopak matamu tak kau katup,
demikian terpukau melihat kilau cahayanya, nak!
Tunggu,
aku sedang mencarikan tangga untukmu
semampuku tentunya,
selebihnya, kau harus bisa terbang sendiri
menggapainya, nak.
Maaf, jika terlambat
dan kau harus kuat menahan malu.
Biarlah, karena mereka berbeda.
Karena aku harus mendapatkan dua tangga
untuk adikmu,
yang jua sedang menatap bintang kecil
yang jauh dan masih pagi jika ia dibiarkan terbang.
Untukmu anakku, yang sudah lebih lama
jangan hanya menatap
bergeraklah dan ikut berdoa.

Selasa, 01 Juli 2025

PUISI

Puisi Hari ini

 

Ingin 'ku sampaikan curahan, meski kadang tak kuat.

Menampung makna pada ruang kata mungkin tak muat.

Baru terbersit, kelopak ini sudah berkesiap menahan tetes.

Deras nafas membawa kata begitu bergelora.

Seisi langit ruangan sesak dipadati makna:

pelajaran berharga,

nasihat,

teguran,

sesal pada tingkah yang salah.

 

Luapan hati dan pikiran begitu memadati lisan.

tak henti mengumbar ucap bergumam tak terdengar.

Ya, tentang hari ini.

 

Tentang kisah sejarah perubahan dan kebangkitan

Lima belas abad silam,

teladan cermin perjalanan hidup

menuju puncak kejayaan.

 

Dan, pengembaraan Ingatan dua puluh tahun lalu

tentang cerita indah

Janji suci di hadapan saksi

Lantunan akad yang melagu rindu,

dipandu penghulu.

 

Selamat Tahun Baru 1445 H, dan

Mabruk fii umri Perjalanan pernikahan kami yg ke-20


1 Muharram 1445 H

19 Juli 2023


Senin, 30 Juni 2025

Buku GELORA




Judul                     GELORA
Penulis                  : Abu Sabiq (Ridwan Taufiq)
Editor                    : Leci Seira
Cetakan Pertama   : Mei 2023
Cetakan Kedua   : Juli 2024
Penerbit                : PT. INDRA ALYA AYRA
QRCBN               : 62-519-7133-026
ISBN         : 978-623-10-1663-8
 



Prakata

Buku ini adalah coretan sederhana di buku harian berceceran. Penulis menemukannya di lembaran beberapa buku catatan, mulai tahun ’97 sampai 2017. Mungkin boleh disebut puisi atau sajak atau apalah, sekadar tumpahan kata yang berserakan tak beraturan. Barangkali hanya semburan frasa tangkapan lintasan pikiran yang lalu-lalang. Pun, bisa jadi merupakan sekumpulan kosa kata semata, yang belum terorganisir berkehendak mewujud makna.

Akan tetapi, tentu saja tebersit maksud, yaitu sekadar menangkap percikan api kejadian hidup agar bermakna dan menjadi ilmu yang menyala. Setidaknya tergores hati ketika itu pada ungkapan Ali bin Abi Tholib, “Ikatlah ilmu dengan menulis”.

Ya, seperti yang pernah “guru” katakan bahwa setiap lalu-lalang informasi yang didengar (oleh telinga kesadaran), akan bermakna bila “diikat” atau ditulis. Katanya, mencatat merupakan aktivitas penting dalam mengumpulkan setiap kepingan makna  untuk kemudian melakukan penggabungan dengan kepingan-kepingan yang lain sehingga membentuk kepingan makna yang baru.

Mungkin, bagi yang sama-sama pernah membaca buku-buku kajian hermeneutik, semantik, maupun semiotik, sok blaga penulis mencoba mengungkapkan triangel antara kata, konsep atau akal, dan realitas sehingga lagi-lagi sok blaga, bahwa perjalanan hidup ini adalah menafsirkan realitas melalui akal pikiran ke dalam kata-kata, dan menafsirkan kata-kata melalui akal pikiran ke dalam realita. Wooow … sok filosofis.

Empat bagian dalam buku sederhana ini tidak berdasar pada ketentuan teori, asusmi, hipotesa, atau kerangka pikir apa pun. Ini hanya mencoba membagi ruang waktu berpikir penulis yang memungkinkan melihat perubahan jalan tempuh dalam menyusuri, melintasi, mengalami, mengikuti, meniti, setiap belukar yang dijumpai.

 

Salam,


Penulis


 

Sabtu, 28 Juni 2025

PUISI Fajar

 



Fajar mulai terbit walau

mendung masih menggantung di langit.

Rinai gerimis perlahan reda.

Angin, tak membawa kabar,

ia ngumpet dalam jemuran

di teras rumah dan sesekali melongok

berdesir mengipas baju gantungan.

Dedaunan yang dibasuh hujan

mulai bercahaya menyapa siang.

Pagi hari ini, pa guru menancap di rumah.

Sisa pekerjaan sekolah

masih menumpuk menunggu sentuhannya.

Direngut kopi berkali-kali ...


20 April 2016

Fenomena Siswa: Menulis Terasa Berat, Ngobrol Begitu Ringan.

  Oleh: Ridwan Taufiq “Pak, saya tidak bisa menulis” “Ya, itu. Tulislah kalimat itu,’saya tidak bisa menulis’!” “Kok, begitu, Pak?” “Iya. Co...