Berbagi Makna
Blog Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, berbagi tentang berbagai bahan materi pembelajaran siswa SMP & SMA, umum peminat bahasa & sastra
Jumat, 21 Agustus 2026
Kamis, 13 Agustus 2026
PUISI UNTUK NEGERI
Ridwan Taufiq
Untuk
negeri yang lebih baik, dengarlah harapan dan keluh ku
Kala
merajut nikmat kemerdekaan dari penjajahan yang sekian masa membelunggu.
Saat
jelang usiamu delapan puluh satu yang mulai renta, kulihat keriput wajahmu
Menyimpan
sejarah perjuangan atas jeratan dan penindasan kelam masa lalu.
Tidakkah
menyisakan mutiara ilmu dan filosofi hidup.
Keluhku
melahirkan perasaan susah
dengan
mengaduh, kutarik napas
dan
ungkapan yang keluar karena derita yang berat, dan kesakitan ragamu negeriku.
Keluh kesahku
lahirkan
segala ucap kepedihan gelisah, kesal, dan tak senang atas jiwamu negeriku
ucapan
memanjang seperti gumaman sampaikan pikiran atas nasibmu
hingga
bersenandika bak tokoh dalam drama berbicara dengan dirinya
sebagai ungkapkan rasa, firasat, dan
batin atas mu wahai negeriku.
Keluhku
tak tenteram, rasa khawatir tak tenang, tak sabar dalam menanti masa depanmu.
Cemas
seperti mendengar desas-desus rumah yang akan digusur di belahan bumimu negeriku.
Gelisah dan resah bergabung dalam
keluh
bersama
kecemasan, risau hati, bahkan takut
seperti akan mendengar kabar
berperang
di dalam ragamu sendiri
bahkan ancaman tentang wabah atau
menantikan keputusan akhir riwayatmu.
Rusuh
hati bercampur cemas, negeriku.
kacau,
dalam keadaan tidak aman dan mengikis ketenteraman pengisismu, negeriku
karena
takut hingga menikus, berdiam miliaran
kata.
Namun, harapan lebih baik bagimu
tak pernah lepas menemani dan menghangatkan batinku.
Dirgahayu Rewpublik Indonesia
Rabu, 12 Agustus 2026
Ketika Jabatan Melahirkan Kesombongan
Oleh: Ridwan Taufiq
“Kalian siap jadi KM?” Saya
bertanya pada lima bakal calon ketua kelas hasil pengumpulan suara terbanyak sistem
formatur.
“InsayAlloh, siap, pa” salah satu
siswa menjawab.
“Kamu?” saya coba bertanya pada
salah satu balon yang juga terpilih dalam formatur.
“Emmh …. Siap, pa.” Jawabnya agak
lama. Beberapa calon lain saya tanya, jawabannya tidak siap karena ini amanah
yang berat katanya.
“Baik, dari kelima balon ini, dua
hari lagi kita akan menentukan siapa calon Ketua Kelas kita.”
Beberapa hari kemudian seorang
siswa mulai mengatur teman-temannya padahal belum terpilih. Siswa yang lainnya
yang justru menolak menjadi ketua tetapi akhirnya mampu menjalankan amanah
dengan baik. Inilah potret kecil saat di kelas mengadakan pemilihan ketua kelas
di awal tahun ajaran.
Awal tahun ajaran selalu
menghadirkan suasana yang khas. Wajah-wajah baru di kelas, semangat yang masih
segar, serta harapan agar satu tahun ke depan berjalan dengan baik. Bagi seorang
wali kelas, ada satu kegiatan yang hampir selalu dilakukan pada hari-hari
pertama, yaitu membentuk kepengurusan kelas.
Sekilas kegiatan ini
tampak sederhana. Bagi penulis sebagai wali kelas, di sinilah proses belajar
kepemimpinan pertama kali akan dimulai. Menentukan ketua kelas atau ketua murid
(KM) sepertinya bukan sekadar memilih siapa yang paling pintar atau paling
berani berbicara. Namun lebih dari itu, kegiatan ini akan sangat menentukan
bagaimana keterjalinan antar siswa, kerja sama, komunikasi, dan interaksi pembelajaran
dapat tumbuh di dalam kelas.
Menariknya, setiap kali proses
pemilihan berlangsung, saya selalu memperoleh kesempatan untuk mengamati
karakter para siswa. Ada yang sejak awal tampak begitu ingin menjadi pemimpin. Ia
tidak mengatakannya secara langsung, tetapi bahasa tubuhnya menunjukkan keinginannya.
Ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan, namun masih dipenuhi pertimbangan.
Mereka tampak ragu menerima amanah, tetapi ketika diberi kepercayaan justru
mampu menjalankannya dengan baik.
Di tengah proses itu, saya sering
menemukan satu gejala yang patut diwaspadai. Benih-benih kesombongan kadang
mulai terlihat. Bukan dalam bentuk ucapan yang kasar atau terang-terangan
merasa paling hebat, melainkan melalui sikap yang mulai ingin lebih menonjol,
ingin lebih dihargai, atau mulai memandang dirinya lebih layak dibanding
teman-temannya.
Di sinilah saya menyadari bahwa
kepemimpinan selalu membawa ujian. Jabatan sekecil apa pun dapat menjadi pintu
masuk bagi tumbuhnya rasa sombong apabila tidak disertai kesadaran bahwa
kepemimpinan adalah amanah, bukan kemuliaan pribadi.
Fenomena kecil di ruang kelas itu
sesungguhnya merupakan miniatur kehidupan yang lebih luas. Apa yang terjadi di
kelas sering kali kita temukan pula di lingkungan masyarakat. Mulai dari
kepemimpinan di tingkat RT, RW, desa atau kelurahan, kecamatan, kabupaten,
provinsi, hingga kepemimpinan nasional. Bedanya hanya pada skala dan dampaknya.
Hakikat ujiannya tetap sama: apakah jabatan menjadikan seseorang semakin rendah
hati atau justru semakin tinggi hati.
Islam sejak awal telah mengingatkan
bahaya kesombongan. Rasulullah SAW bersabda,“Tidak akan masuk surga
seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka memakai pakaian
dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah
dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang
lain.” (HR. Muslim)
Ucapan Nabi SAW. lima
belas abad lalu ini memberikan penjelasan yang sangat penting, bahwa kesombongan
bukan diukur dari pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dimiliki, atau
penampilan yang mewah. Kesombongan adalah ketika seseorang menolak kebenaran
dan merendahkan orang lain.
Sikap inilah yang dahulu
menjerumuskan iblis. Ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam
karena merasa dirinya lebih mulia. Kesombongan membuatnya tidak lagi mampu melihat
kebenaran, melainkan hanya melihat kelebihan dirinya sendiri, sekaligus
merendahkan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, salah
satu pemicu terbesar munculnya kesombongan adalah jabatan. Jabatan memang dapat
mengangkat derajat seseorang di mata manusia, tetapi pada saat yang sama juga
menjadi ujian yang sangat berat di hadapan Allah. Ketika jabatan dipahami
sebagai amanah, ia akan melahirkan pelayanan, keteladanan, dan menumbuhkan berbagai
kebaikan yang bernilai pahala. Sebaliknya, ketika jabatan membuat seseorang
merasa lebih tinggi, enggan menerima kritik, atau memandang rendah bawahannya,
saat itulah ia sedang berjalan menuju kesombongan.
Kita tentu masih sering
menyaksikan berbagai persoalan di negeri ini. Di bidang politik, misalnya, polarisasi
yang berkepanjangan membuat perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan.
Kritik yang seharusnya menjadi vitamin demokrasi kadang dipandang sebagai
ancaman. Di sisi lain, sebagian masyarakat pun kehilangan kepercayaan karena
merasa suaranya tidak lagi didengar.
Dalam bidang ekonomi, masih
ada jurang kesejahteraan yang lebar. Di tengah pertumbuhan dan pembangunan yang
terus berlangsung, masih banyak warga yang berjuang memenuhi kebutuhan
hidupnya. Kebijakan yang kurang peka terhadap kondisi masyarakat kecil sering
kali menimbulkan kesan bahwa keputusan dibuat dari balik meja, bukan dari
denyut kehidupan rakyat.
Dalam kehidupan sosial, kita
juga menyaksikan meningkatnya sikap saling merendahkan, mudah menyalahkan, dan
enggan berdialog, serta mempertahankan ego. Perbedaan pendapat lebih sering
dibalas dengan cemoohan daripada argumentasi. Budaya saling mendengar, pun
perlahan digantikan oleh keinginan untuk selalu menang.
Tentu, semua persoalan itu
tidak dapat disederhanakan sebagai akibat kesombongan seorang pemimpin. Banyak
faktor yang memengaruhinya. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa
ketika seorang pemimpin enggan menerima kritik, merasa paling benar, atau
memandang rendah suara orang lain, keadaan biasanya akan semakin memburuk. Jika
pemimpin tidak menyadari kekurangan dan kesalahannya, alih-alih membuka diri
untuk diperbaiki malah menutupinya dengan topeng kesempurnaan. Penuh
pencitraan. Maka, perlahan kehancuran tinggal menunggu saatnya.
Kesombongan membuat telinga
tertutup, sedangkan kepemimpinan justru membutuhkan kemampuan untuk mendengar. Karena
itu, seorang pemimpin yang rendah hati bukanlah pemimpin yang tidak pernah
salah, melainkan pemimpin yang bersedia dikoreksi. Ia tidak menganggap kritik
sebagai ancaman, tetapi sebagai cermin. Ia tidak merasa paling mengetahui
segala hal, tetapi sadar bahwa keputusan terbaik sering lahir dari musyawarah
dan kesediaan mendengarkan.
Banyak
negara hancur bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu
banyak pemimpin yang merasa dirinya paling benar. Ketika seorang pemimpin
berhenti mendengar, saat itulah kesombongan mulai mengambil alih
kepemimpinannya. Ironisnya, kesombongan
dalam kepemimpinan sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Ia merasa sedang
menunjukkan kewibawaan, padahal orang lain merasakan kesewenang-wenangan. Ia
menganggap sedang menjaga martabat jabatan, padahal sesungguhnya sedang
memelihara ego.
Karena itulah, lawan terbaik dari
kesombongan adalah rendah hati atau tawadhu.
Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menyadari bahwa semua
kelebihan berasal dari Allah dan setiap manusia memiliki kemuliaannya
masing-masing.
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,“Tahukah
kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumahmu lalu bertemu
seorang muslim, kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”
Ungkapan ini mengajarkan
cara pandang yang indah. Ketika bertemu orang lain, kita tidak sibuk mencari
kekurangannya, melainkan berusaha meyakini bahwa mungkin saja ia lebih baik di
hadapan Allah daripada diri kita.
Barangkali, inilah pelajaran paling
penting dari proses memilih ketua kelas di awal tahun ajaran. Kepemimpinan
bukanlah tentang siapa yang paling ingin berada di depan, melainkan siapa yang
paling siap melayani. Jabatan bukanlah panggung untuk meninggikan diri, tetapi
kesempatan untuk memperbanyak manfaat.
Semakin tinggi posisi seseorang,
seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya. Sebab masyarakat tidak hanya
membutuhkan pemimpin yang cerdas, melainkan juga pemimpin yang mau mendengar,
mau menerima kebenaran, dan tidak merasa dirinya selalu benar bahkan
merendahkan orang lain.
Dari
ruang kelas itulah saya belajar bahwa benih kepemimpinan tumbuh bersamaan
dengan datangnya sebuah ujian. Ujian itu bukan hanya tentang kemampuan
memimpin, melainkan juga kemampuan mengendalikan kesombongan.
Menjadi renungan bagi kita,
untuk bercermin bukan menyalahkan orang lain. Jangan-jangan benih kesombongan itu bukan hanya ada pada para pemimpin
besar, tetapi juga mulai tumbuh dalam diri kita ketika diberi amanah sekecil
apa pun.
Dan
rasanya tidak adil jika tulisan ini hanya diarahkan kepada mereka yang memimpin
di ruang-ruang publik. Sebab, sesungguhnya kita semua adalah pemimpin. Ada yang
memimpin keluarga, memimpin kelas, memimpin organisasi, memimpin sekolah, memimpin
sebuah tim kerja, bahkan memimpin diri sendiri. Selama ada amanah, di situ
selalu ada peluang lahirnya kesombongan. Kata Nabi SAW.,"Setiap kalian adalah pemimpin, dan
setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena
itu, setiap kali kita diberi amanah, sekecil apa pun, marilah kita lebih sering
memeriksa hati daripada memeriksa bawahan. Lebih sibuk mengoreksi diri daripada
mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, kepemimpinan sejati bukan ditentukan
oleh seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa rendah hati kita ketika
menjalankannya.
Semoga
Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dengan sifat tawadhu, menjauhkan kita
dari kesombongan yang pernah membinasakan iblis, dan menjadikan setiap amanah
sebagai jalan menuju ridha-Nya, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih mulia
daripada sesama. Lebih sering memeriksa hati daripada memeriksa bawahan. Karena musuh
terbesar seorang pemimpin bukanlah lawannya atau bawahannya, melainkan egonya
sendiri.
Jabatan
tidak mengubah karakter seseorang. Jabatan hanya memperlihatkan karakter yang
selama ini tersembunyi. Karena itulah kita tidak perlu terlalu sibuk
menilai apakah seorang pemimpin telah menjadi sombong. Yang jauh lebih penting
adalah bertanya kepada diri sendiri: jika suatu hari Allah memberi saya amanah
yang lebih besar, akankah saya tetap mudah menerima nasihat? Masihkah saya
menghargai orang lain? Ataukah saya mulai merasa lebih mulia karena sebuah jabatan?
Sebab, kesombongan tidak selalu dimulai dari kursi yang tinggi. Ia sering
tumbuh diam-diam di dalam hati yang lupa bahwa setiap amanah kelak akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Kamis, 09 Juli 2026
Fenomena Siswa: Menulis Terasa Berat, Ngobrol Begitu Ringan.
Oleh: Ridwan Taufiq
“Pak, saya tidak bisa
menulis”
“Ya, itu. Tulislah
kalimat itu,’saya tidak bisa menulis’!”
“Kok, begitu, Pak?”
“Iya. Coba tulis saja!”
“Kemudian lanjut
tulisannya,’kenapa saya tidak bisa menulis?’, terus saja tanyakan dan kamu
jawab sendiri di dalam tulisan itu. Akhirnya kamu akan bisa menulis. Karena
sebenarnya kamu sedang menulis.”
Adegan dramatis itu kerap
terjadi saat pelajaran Bahasa Indonesia pada elemen menulis. Dimana seorang guru menghimbau anak didiknya untuk
mebiasakan menulis buku harian setiap hari jelang tidur. Cukup beberapa
kalimat. Tiga atau lima kalimat. Lima baris dalam kebiasaan sebutan mereka.
Entah mereka mengerjakan atau tidak.
Ada fenomena menarik yang
muncul saat siswa disuruh menulis, ialah “mandek”. Sementara saat sebelumnya
mereka ngobrol begitu ramainya. Mereka berbicara karena ada lawan bicara.
Sementara menulis, anggapannya tidak ada lawan menulis.
Sesungguhnya di pelajaran
teks deskripsi, siswa ditugaskan membawa objek sebagai lawan menulis. Objek
bisa menjadi lawan dalam kegiatan menulis. Objek deskripsi bisa sebuah benda
kesukaan: jam tangan, boneka, buku, dan benda kesukaan lainnya. Ketika benda
itu di bawa ke kelas, mereka tetap mandek. Tulisan mereka biasanya, “Ini boneka
saya. Warnanya putih. Saya suka,” sudah. Berhenti. Apa masalahnya?
Yang jelas, begitu
kontras antara lisan yang begitu lancar, dengan tulisan yang selalu buntu.
Sehingga bagi saya muncul pertanyaan retoris: “Kenapa ide mereka deras saat
ngobrol, tetapi sulit saat menulis?”
Apakah disebabkan, karena
ngobrol adalah proses alami? Sementara menulis merupakan proses yang harus
diciptakan?
Siswa dan manusia pada
umumnya spontan saat berbicara. Kendatipun pembicaraannya kemana-mana, dan
mungkin tidak direncana. Sehingga pembicaraan terasa ringan dan tidak harus
rapi.
Sementara yang kita
ketahui kalau menulis itu harus teratur, perlu struktur, ada pemilihan kata,
dan harus ada bentuk. Sehingga siswa tidak terbiasa memindahkan ide atau
pikirannya ke dalam bentuk teks.
Di sinilah letak menulis
menjadi terasa berat bagi siswa. Dimana mereka harus: memikirkan ide, menyusun
kalimat, memperhatikan ejaan, memperhatikan bentuk, dan lain-lain. Inilah yang
barangkali membuat siswa cepat lelah secara kognitif, bahkan sebelum mereka
memulai.
Hal lain yang dihadapi
siswa ketika menulis adalah takut salah atau dianggap jelek. Ketika ngobrol,
mereka ringan karena tidak dinilai, sehingga terasa aman. Sementara menulis ada
penilaian, sehingga terasa ada tekanan. Maka, apa yang terjadi? Adalah overthingking dan memilih diam daripada dinilai
salah.
Atau barangkali karena
tidak terbiasa menulis sehingga menjadi terasa berat. Seperti halnya ngobrol
yang menjadi kebiasaan dan terasa alami. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan,
awalnya mengalami kesulitan. Sebagaiman sebagian kecil siswa yang diawal
pergaulannya terlihat terasa sulit untuk bisa ngobrol dengan temannya. Tetapi
lama kelamaan ia terus berhadapan dengan temannya dan ngobrol. Sehingga menjadi
terbiasa. Barangkali demikian pula dengan menulis. Jika diawal terasa sulit,
jika terus menerus akan terasa mudah. Bahkan akan menjadi kebiasaan.
Disinilah barangkali
siswa harus dilatih terus menerus dalam menulis agar menjadi terbiasa. Untuk
menjadi kebiasaan, maka perlu tahapan dalam proses pembiasaannya. Kalau realita
yang ada bahwa siswa sering disuruh menulis sebuah paragraf, misalnya, tanpa
ada tahapan, maka bisa jadi sulit.
Kemudian topik tidak dekat
dengan dunia siswa. Ngobrol, tentu saja tentang hal yang mereka alami. Sementara
menulis, sering pada topik yang “jauh” dari dunianya. Akibatnya, ide mereka
tidak muncul. Tulisan mereka terasa dipaksakan.
Menulis terlalu cepat masuk
ke “Formalitas”. Siswa belum selesai menuangkan ide, tapi sudah
dituntut: rapi, baku, sesuai kaidah. Menurut penulis, ini bisa mematikan
keberanian mereka mengawali menulis.
Maka pertanyaan refleksi bagi
kita sebagai guru : Apakah kita terlalu cepat menilai? Kurang memberi
ruang eksplorasi? Langsung ke hasil, bukan proses?
Maka
harus ada jalan atau jembatan yang bisa menghubungkan ngobrol ke menulis.
Mengubah ngobrol menjadi bahan tulisan bisa dengan diskusi, misalnya. Atau
dengan tulis ulang dengan pertanyaan pemantik, “Kamu tadi bilang apa? Coba
tulis!”
Kemudian
mulai dengan satuan bahasa yang terkecil. Bisa mulai dengan satu kalimat.
Buatlah satu kalimat dengan menggunakan kata “kursi”! Rangkaikan kata-kata
kunci berikut: ibu, pasar, sayur, adik. Maka, mereka bisa merangkaikannya dengan
banyak ragam sesuai yang mereka fahami: Ibu
pergi ke pasar membeli sayur bersama adik; Ibu berangkat ke pasar menjual sayur bersama adik; Ibu pergi ke pasar
membeli sayur bertemu dengan adik; dengan beragam kalimta lainnya. Terus
begitu. Tidak langsung disuruh menulis satu paragraf. Biarkan tulisannya terasa
kasar terlebih dahulu.
Menulis bukanlah bakat, tetapi kebiasaan. Siswa sebenarnya punya bahan untuk menulis tetapi belum terbiasa dan kurang dilatih terus menerus untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Lagi-lagi, mungkin masalahnya bukan siswa tidak bisa menulis, tetapi kita belum menemukan jalan yang dapat menghubungkan dunia lisan mereka ke dunia tulisan.
Kamis, 02 Juli 2026
Realita Siswa Membaca Terasa Berat, Benarkah?
Oleh: Ridwan Taufiq
Udara cerah, mentari mulai menampakkan sinarnya, menyelinap kaca jendela menghangati ruang-ruang kelas sederhana. Angin setia mengipas kesegaran ke setiap sudut kelas dengan kibar sang saka Merah Putih di tiang sepanjang dua meter menjulang ke langit. Ketika itu, penulis melintas setiap kelas menuju kelas di ujung sana, mengisi jam pelajaran.
Pagi itu di kelas, penulis meminta siswa membaca sebuah tek deskripsi berjudul “Pantan Terong yang Instagramable”. Teksnya tidak Panjang, hanya dua halaman – sekitar 250 atau 300 kata. Respons mereka seragam, hampir seragam: menarik nafas, wajah datar, dan beberapa siswa nyeletuk, “Pak, ini panjang banget, ya?”
Padahal sepanjang lintasan kelas, di saat yang sama penulis masih teringat melihat siswa-siswi ketawa-ketiwi, sepertinya sedang membaca chat group. Kesempatan lain barangkali mereka sangat serius mengikuti cerita di medos. Bahkan mungkin hafal alur video yang mereka tonton semalaman. Tidak tampak wajah datar seperti “alergi membaca”.
Benarkah Siswa Malas Membaca?
Pertanyaan: benarkah siswa malas membaca? Ini menimbulkan pertanyaan susulan:
Apakah kita yang salah cara menyajikan bacaan yang tepat? Asumsi penulis, yang
berat bukan aktivitas membacanya. Namun, cara kita memperkenalkan bacaan itu
sendiri.
Di sekolah, membaca sering dilakukan dalam bentuk yang seragam. Buku yang seragam. Penerbit yang seragam pula. Teksnya panjang, bahasa baku, dan pertanyaan yang memaksa jawaban benar. Siswa diminta memahami, menganalisis lalu menjawab. Semua terasa seperti kewajiban yang harus segera diselesaikan. Bukan sebuah pengalaman yang ingin “dinikmati”.
Sementara di luar kelas sana, bahkan di rumah, siswa berhadapan dengan teks yang beragam. Tulisan yang berbeda sama sekali. Teks yang mereka temui di gawai cenderung ringkas. Tulisan yang mereka baca dekat dengan keseharian. Dan pasti sesuai dengan konteks yang mereka fahami. Rasa terbebas dari paksaan, dengan memasang wajah ceria. Tidak ada tekanan untuk “harus benar”. Yang ada hanya rasa ingin tahu dan atau sekedar hiburan. Nikmat rasanya. Di sinilah, penulis melihat ada jarak!
Di era kecerdasan buatan, dunia bergerak begitu cepat. Begitu pun dengan siswa. Dunianya ikut bergerak dengan cepat. Di era transformasi digital, siswa lebih visual dan interaktif. Siswa bisa mengetahui berita viral lebih cepat. Mereka bisa mengingat tren di media social. Mereka aktif berkomentar di dunia maya.
Sementara dunia kelas masih sering kali bertahan di dalam pola linier dan satu arah. Kita memaksa mereka masuk ke dunia teks yang teras asing – bukan dunianya. Mereka perlu jembatan pada dunia yang sudah sangat mereka kenal. Dan akibatnya, membaca teras berat.
Atau, Kita yang Salah Menyajikan!
Anthony Trollope, seorang novelis Inggris, pernah berkata, “Bahwa Saya bisa membaca dan merasa bahagia saat membaca, adalah sebuah berkah yang besar.” Bisakah kita mengondisikan agar siswa membaca merasa bahagia!
Bila kita lebih jujur, siswa sebenarnya tetap membaca. Siswa kita
membaca percakapan, membaca situasi, membaca perasaan dalam konflik, memahami
alur dalam cerita digital. Bahkan, mereka aktif mengomentari segala hal di
dunia digital. Hanya mungkin, aktivitas membaca mereka kerap kita tidak
mengakuianya sebagai bagian proses belajar.
Kita barangkali sering terjerumus pada sebuah anggapan bahwa membaca itu harus “serius”. Membaca harus dalam bentuk teks yang panjang. Menggunakan bahasa formal dan analisis yang mendalam. Bagi penulis, tentu saja itu tidak salah. Namun, ketika hal itu menjadi satu-satunya jalan masuk, banyak siswa akan merasa tertinggal sebelum benar-benar memulainya. Maka, mungkin yang harus kita ubah bukan tujuan atau tuntutan akhir, melainkan jalannya.
Keterlibat Guru dan Orang Tua Siswa
Peran kita sebagai guru tentu saja menjadi penting. Bukankah peran guru
tidak sekadar pemberi materi, tetapi fasilitator berpikir. Kita berperan
sebagai pembimbing literasi dan pengarah makna. Sebagai guru, kita dituntut
inovatif. Agar inovatif, tepat sekali jika kita banyak berekplorasi dengan
berbagai pertanyaan: bagaimana jika membaca itu dimulai dengan sesuatu yang
lebih dekat? bagaimana jika teks yang diberikan memiliki kaitan secara langsung
dengan pengalaman siswa? bagaimana jika membaca tidak harus diikuti dengan
pertanyaan yang menekan, cukup dengan memberi ruang untuk bereaksi dan
berpendapat?
Pertanyaan demi pertanyaan ini tidak selalu mudah untuk dijawab. Sebagai guru, kita terikat pula dengan kurikulum, capaian pembelajaran, dan keterbatasan alokasi waktu. Namun, setidaknya kita sediakan ruang kecil untuk beresperimen, menggeser sedikit cara penyajian, tanpa harus mengubah tujuan.
Penulis menemukan, bahwa ketika siswa merasa releat atau terhubung dengan teks yang dibaca, mereka tidak lagi sibuk menghitung-hitung jumlah paragraf. Setiap paragraf dikupas, diam sejenak dan dinikmati. Mereka mulai membaca dengan rasa ingin tahu, bukan sekedar kewajiban. Pada tahap ini, membaca tidak lagi terasa berat.
Barangkali selama ini kita begitu cepat menyimpulkan bahwa siswa tidak berminat membaca. Padahal, bisa jadi mereka belum menemukan alasan mengapa mereka membaca teks yang kita berikan. Maka, sebelum nebgatakan “anak-anak sekarang melas membaca”, betapa tidak jika kita bertanya sejenak: apakah bacaan yang kita hadirkan sudah cukup dekat dengan dunia mereka. Ataukah justru kita yang belum cukup berusaha mendekatkannya!
Sabtu, 18 April 2026
OPINI : Membaca Buku Senikmat Pizza
Membaca
Buku Senikmat Pizza
Oleh: Ridwan Taufiq
“Pak, saya sudah membaca,” sebuah jawaban lantang itu sering
terdengar di kelas, ketika mendapat tugas membaca senyap. Namun, ketika ditanya
kembali isi bacaan itu, siswa terdiam. Padahal baru saja selesai membaca satu
halaman. Ketika disuruh membaca nyaring, titik dan koma dilompati tanpa jeda.
Padahal, justru pada jeda itulah sebenarnya proses berpikir terjadi. Bacaan
sedang benar-benar dinikmati. Sebagai guru, penulis beranggapan bahwa mereka
membaca belum sepenuhnya dimaknai sebagai proses memahami. Siswa masih
memandang membaca sebagai kegiatan mengeja kata. Ketika siswa diminta membaca
nyaring, suara mereka seperti motor tanpa rem, melaju tanpa jeda. Titik dan
koma ditabrak begitu saja, tidak berhenti. Tidak ada ruang mereka untuk
berpikir. Tidak ada rasa saat mereka membaca. Dan tentu saja tidak ada waktu mereka
untuk memahami.
Fenomena ini barangkali tidak terjadi pada semua siswa. Namun
cukup untuk membuat kita merasa khawatir. Bahwa membaca seolah hanya maknai
sebagai aktivitas mengeja kata, menyuarakan huruf, dan menyelesaikan kata demi kata
setiap kalimat. Menelusuri stiap paragraph dalam sebuah wacana teks. Padahal,
membaca sejatinya bukan sekadar melafalkan, melainkan memahami. Di sinilah
penulis anggap letak persoalannya.
Apa membaca itu?
Membaca adalah proses berpikir. Ketika mata menelusuri setiap
teks, sesungguhnya otak sedang bekerja. Ia sedang menafsirkan, menghubungkan,
dan memaknai di balik teks itu. Jeda pada titik dan koma bukan sekadar aturan
tanda baca, melainkan ruang bagi pikiran untuk menikmani, mencerna. Tanpa itu, maka
membaca akan kehilangan maknanya.
Membaca sejatinya adalah aktivitas kognitif. Ia melibatkan
pemahaman, penafsiran, dan refleksi. Tanpa itu, membaca hanya menjadi rutinitas
tanpa makna. Untuk menumbuhkan minat baca, penulis rasa perlu pendekatan yang lekat
dengan pengalaman siswa. Salah satu diantaranya adalah analogi sederhana, yaitu
membaca seperti menikmati pizza.
Lalu, Bagaimana membuat
membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan senikmat Pizza?
Analogi ini mungkin sederhana dan membumi: sepotong pizza. Ini
hanya sebagian analogi, bisa pada makanan lain yang memilki daya tarik selera
anak. Yang diperlukan adalah mengubah cara pandang. Bayangkan membaca seperti
menikmati sepotong pizza hangat. Pizza yang sedang terhidang lezat memiliki
daya tarik. Aroma yang menggoda, tampilan yang menarik, dan tentu saja rasa
yang pasti memuaskan. Buku yang baik pun demikian. Judul yang memikat, tampilan
yang menarik, serta isi yang relevan akan membuat siswa tertarik untuk membaca.
Saat kita melihat pizza, sebelum mencicipinya pun, kita pasti sudah tergoda.
Aroma dan tampilan yang menggugah selera, dan keinginan untuk segera
menyantapnya begitu kuat. Membaca buku, pun seharusnya seperti itu.
Maka, buku yang baik adalah buku yang “mengundang selera”. Judul
yang menggoda, seperti aroma pizza yang tercium dari kejauhan. Sampul buku yang
menarik, seperti tampilan pizza yang membuat mata sulit berpaling. Dan isinya, tentu
saja harus lezat; mudah dipahami, relevan, dan akan memberi kepuasan batin
setelah membacanya. Di sinilah, membaca akan teras nikmat.
Lebih dari itu, buku adalah “makanan ruhani”. Ia tidak hanya
mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan akal pikiran. Seperti makanan bergizi
bagi tubuh, buku yang baik mengandung “nutrisi” yang menyehatkan. Nutrisi itu berupa
gagasan, nilai, pelajaran, dan hikmah yang mampu menggugah dan menggerakkan pikiran
kita. Sebagai “makanan ruhani”, buku pun akan memberikan nutrisi lain berupa
pengetahuan dan nilai kehidupan. Buku yang berkualitas akan mampu menggerakkan
pikiran dan menumbuhkan sikap kritis.
Maka, analogi buku yang “selezat pizza” adalah buku yang: akan
menggugah rasa ingin tahu sejak dari judulnya; disajikan dengan bahasa yang
mudah dipahami; dekat dengan kehidupan pembaca; membuat pembaca ingin terus
melanjutkan; dan tentu saja meninggalkan kesan mendalam setelah selesai dibaca.
Sebaliknya, buku yang terasa “hambar” akan sulit menarik minat, terutama bagi
siswa yang sedang belajar mencintai membaca. Ia akan membosankan. Sulit
disentuh, apalagi di”habiskan”. Karena itu, penting memilih buku yang tepat, terutama
untuk siswa. Buku harus sesuai dengan usianya, dekat dengan kehidupan mereka,
dan yang pasti mampu membangkitkan rasa ingin tahu mereka.
Peran Guru (dan Orang Tua), seperti
apa?
Bagi penulis merasa, di sinilah peran penting guru (dan juga
orang tua). Kata DR Drajat, seorang ahli Hypnoteaching,
bahwa peradaban pendidikan tidak dibentuk dari Gedung-gedung yang megah, tetapi
melalui ruang kelas kecil yang penuh makna. Guru mendapat peran sangat penting di
dalam kelas untuk menumbuhkan selera literasi. Guru tidak hanya mengajarkan
cara membaca, tetapi juga membimbing siswa bagaimana menikmati bacaan. Meyakinkan
mereka bahawa setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, memberi
waktu mereka untuk menikmati dan memikirkan apa yang sedang mereka baca. Bahawa
setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, membuat mereka merasa
bahagia dan penuh dengan ide-ide yang baru. Begitu pula dengan peran orang tua
di rumah.
Perintah “Iqro” yang menjadi awal tradisi literasi kita, juga
mengandung makna mendalam. Ternyata membaca tidak hanya teks, tetapi juga
kehidupan, peristiwa, dan kenyataan hidup di sekitar kita. Membaca bukan
sekadar keterampilan, melainkan kebutuhan. Jika siswa kita sudah merasakan
betapa “nikmatnya” membaca, maka literasi akan tumbuh secara alami. Bukan
karena paksaan, tetapi karena kebutuhan. Bahkan dalam konteks yang lebih luas,
membaca adalah bagian dari literasi. Membaca adalah sebuah kemampuan dasar
manusia dalam berbahasa, setelah menyimak dan berbicara, yang kemudian bermuara
pada menulis. Membaca yang baik akan melahirkan pemahaman, dan pemahaman akan
melahirkan gagasan.
Sebagaiman penulis katakan, perintah pertama yang diturunkan
kepada manusia adalah “Iqro”, bacalah. Namun membaca di sini bukan sekadar
membaca teks, melainkan membaca kehidupan: memahami fenomena, peristiwa, dan
tanda-tanda alam semesta. Maka, membaca sejatinya adalah upaya memahami: memahami
diri; memahami dunia; memahami kehidupan. Jika membaca sudah sampai pada tahap
itu, ia tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Bahkan, bisa menjadi sebuah
kenikmatan seperti pizza. Pertanyaannya, sudahkah kita menghadirkan buku-buku
yang mampu membuat siswa “lapar” untuk membaca? Atau jangan-jangan, selama ini
kita hanya menyuruh mereka makan, tanpa memastikan apakah hidangannya menggugah
selera?
Maka, dapat dipastikan bahwa perubahan besar peradaban Pendidikan
tadi, serta menyongsong Indonesia melahirkan generasi emas tahun 2045, bisa
dimulai dari hal sederhana, seperti: memilihkan buku yang tepat, membimbing
cara membaca yang benar, dan menumbuhkan rasa bahwa membaca itu nikmat. Memulai
dari satu halaman. Satu buku. Kemudian Satu rasa. Sampai akhirnya, siswa
benar-benar merasakan bahwa membaca bukan sekadar kegiatan yang dipaksakan,
melainkan kebutuhan yang dirindukan, dinikmati, dan selalu ingin diulang
kembali. Kalau siswa sudah “lapar” membaca, kita tidak perlu lagi menyuruh
mereka. Mereka akan mencari buku dengan sendirinya. Pertanyaannya sekarang: sudahkah
kita menyajikan “bacaan selezat pizza” untuk mereka!?
Kamis, 03 Juli 2025
Puisi
Anakku,
TUGAS PROYEK MENYAJIKAN TEKS DESKRIPSI LISAN (VLOG)
Murid SMPN 1 Pameungpeuk Kelas 7a - 7d
-
UNSUR DIDAKTIK PUISI “SAAT SEBELUM BERANGKAT” DALAM BUKU “HUJAN BULAN JUNI” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Ridwan Taufiq, Yulian...
-
RE VIEW BUKU : Ridwan Taufiq Judul : Max Havelaar Penulis : Multatuli Penerbit : Qanita PT Miza...
-
GURUKU Karya : Abu Sabiq Kaulah pembawa kebenaran Kau percikan c...
