Sabtu, 18 April 2026

OPINI : Membaca Buku Senikmat Pizza

 

Membaca Buku Senikmat Pizza

Oleh: Ridwan Taufiq

 

“Pak, saya sudah membaca,” sebuah jawaban lantang itu sering terdengar di kelas, ketika mendapat tugas membaca senyap. Namun, ketika ditanya kembali isi bacaan itu, siswa terdiam. Padahal baru saja selesai membaca satu halaman. Ketika disuruh membaca nyaring, titik dan koma dilompati tanpa jeda. Padahal, justru pada jeda itulah sebenarnya proses berpikir terjadi. Bacaan sedang benar-benar dinikmati. Sebagai guru, penulis beranggapan bahwa mereka membaca belum sepenuhnya dimaknai sebagai proses memahami. Siswa masih memandang membaca sebagai kegiatan mengeja kata. Ketika siswa diminta membaca nyaring, suara mereka seperti motor tanpa rem, melaju tanpa jeda. Titik dan koma ditabrak begitu saja, tidak berhenti. Tidak ada ruang mereka untuk berpikir. Tidak ada rasa saat mereka membaca. Dan tentu saja tidak ada waktu mereka untuk memahami.

Fenomena ini barangkali tidak terjadi pada semua siswa. Namun cukup untuk membuat kita merasa khawatir. Bahwa membaca seolah hanya maknai sebagai aktivitas mengeja kata, menyuarakan huruf, dan menyelesaikan kata demi kata setiap kalimat. Menelusuri stiap paragraph dalam sebuah wacana teks. Padahal, membaca sejatinya bukan sekadar melafalkan, melainkan memahami. Di sinilah penulis anggap letak persoalannya.

 

Apa membaca itu?

Membaca adalah proses berpikir. Ketika mata menelusuri setiap teks, sesungguhnya otak sedang bekerja. Ia sedang menafsirkan, menghubungkan, dan memaknai di balik teks itu. Jeda pada titik dan koma bukan sekadar aturan tanda baca, melainkan ruang bagi pikiran untuk menikmani, mencerna. Tanpa itu, maka membaca akan kehilangan maknanya.

Membaca sejatinya adalah aktivitas kognitif. Ia melibatkan pemahaman, penafsiran, dan refleksi. Tanpa itu, membaca hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Untuk menumbuhkan minat baca, penulis rasa perlu pendekatan yang lekat dengan pengalaman siswa. Salah satu diantaranya adalah analogi sederhana, yaitu membaca seperti menikmati pizza.

 

Lalu, Bagaimana membuat membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan senikmat Pizza?

Analogi ini mungkin sederhana dan membumi: sepotong pizza. Ini hanya sebagian analogi, bisa pada makanan lain yang memilki daya tarik selera anak. Yang diperlukan adalah mengubah cara pandang. Bayangkan membaca seperti menikmati sepotong pizza hangat. Pizza yang sedang terhidang lezat memiliki daya tarik. Aroma yang menggoda, tampilan yang menarik, dan tentu saja rasa yang pasti memuaskan. Buku yang baik pun demikian. Judul yang memikat, tampilan yang menarik, serta isi yang relevan akan membuat siswa tertarik untuk membaca. Saat kita melihat pizza, sebelum mencicipinya pun, kita pasti sudah tergoda. Aroma dan tampilan yang menggugah selera, dan keinginan untuk segera menyantapnya begitu kuat. Membaca buku, pun seharusnya seperti itu.

Maka, buku yang baik adalah buku yang “mengundang selera”. Judul yang menggoda, seperti aroma pizza yang tercium dari kejauhan. Sampul buku yang menarik, seperti tampilan pizza yang membuat mata sulit berpaling. Dan isinya, tentu saja harus lezat; mudah dipahami, relevan, dan akan memberi kepuasan batin setelah membacanya. Di sinilah, membaca akan teras nikmat.

Lebih dari itu, buku adalah “makanan ruhani”. Ia tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan akal pikiran. Seperti makanan bergizi bagi tubuh, buku yang baik mengandung “nutrisi” yang menyehatkan. Nutrisi itu berupa gagasan, nilai, pelajaran, dan hikmah yang mampu menggugah dan menggerakkan pikiran kita. Sebagai “makanan ruhani”, buku pun akan memberikan nutrisi lain berupa pengetahuan dan nilai kehidupan. Buku yang berkualitas akan mampu menggerakkan pikiran dan menumbuhkan sikap kritis.

Maka, analogi buku yang “selezat pizza” adalah buku yang: akan menggugah rasa ingin tahu sejak dari judulnya; disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami; dekat dengan kehidupan pembaca; membuat pembaca ingin terus melanjutkan; dan tentu saja meninggalkan kesan mendalam setelah selesai dibaca. Sebaliknya, buku yang terasa “hambar” akan sulit menarik minat, terutama bagi siswa yang sedang belajar mencintai membaca. Ia akan membosankan. Sulit disentuh, apalagi di”habiskan”. Karena itu, penting memilih buku yang tepat, terutama untuk siswa. Buku harus sesuai dengan usianya, dekat dengan kehidupan mereka, dan yang pasti mampu membangkitkan rasa ingin tahu mereka.

 

 

 

Peran Guru (dan Orang Tua), seperti apa?

Bagi penulis merasa, di sinilah peran penting guru (dan juga orang tua). Kata DR Drajat, seorang ahli Hypnoteaching, bahwa peradaban pendidikan tidak dibentuk dari Gedung-gedung yang megah, tetapi melalui ruang kelas kecil yang penuh makna. Guru mendapat peran sangat penting di dalam kelas untuk menumbuhkan selera literasi. Guru tidak hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga membimbing siswa bagaimana menikmati bacaan. Meyakinkan mereka bahawa setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, memberi waktu mereka untuk menikmati dan memikirkan apa yang sedang mereka baca. Bahawa setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, membuat mereka merasa bahagia dan penuh dengan ide-ide yang baru. Begitu pula dengan peran orang tua di rumah.

Perintah “Iqro” yang menjadi awal tradisi literasi kita, juga mengandung makna mendalam. Ternyata membaca tidak hanya teks, tetapi juga kehidupan, peristiwa, dan kenyataan hidup di sekitar kita. Membaca bukan sekadar keterampilan, melainkan kebutuhan. Jika siswa kita sudah merasakan betapa “nikmatnya” membaca, maka literasi akan tumbuh secara alami. Bukan karena paksaan, tetapi karena kebutuhan. Bahkan dalam konteks yang lebih luas, membaca adalah bagian dari literasi. Membaca adalah sebuah kemampuan dasar manusia dalam berbahasa, setelah menyimak dan berbicara, yang kemudian bermuara pada menulis. Membaca yang baik akan melahirkan pemahaman, dan pemahaman akan melahirkan gagasan.

Sebagaiman penulis katakan, perintah pertama yang diturunkan kepada manusia adalah “Iqro”, bacalah. Namun membaca di sini bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca kehidupan: memahami fenomena, peristiwa, dan tanda-tanda alam semesta. Maka, membaca sejatinya adalah upaya memahami: memahami diri; memahami dunia; memahami kehidupan. Jika membaca sudah sampai pada tahap itu, ia tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Bahkan, bisa menjadi sebuah kenikmatan seperti pizza. Pertanyaannya, sudahkah kita menghadirkan buku-buku yang mampu membuat siswa “lapar” untuk membaca? Atau jangan-jangan, selama ini kita hanya menyuruh mereka makan, tanpa memastikan apakah hidangannya menggugah selera?

Maka, dapat dipastikan bahwa perubahan besar peradaban Pendidikan tadi, serta menyongsong Indonesia melahirkan generasi emas tahun 2045, bisa dimulai dari hal sederhana, seperti: memilihkan buku yang tepat, membimbing cara membaca yang benar, dan menumbuhkan rasa bahwa membaca itu nikmat. Memulai dari satu halaman. Satu buku. Kemudian Satu rasa. Sampai akhirnya, siswa benar-benar merasakan bahwa membaca bukan sekadar kegiatan yang dipaksakan, melainkan kebutuhan yang dirindukan, dinikmati, dan selalu ingin diulang kembali. Kalau siswa sudah “lapar” membaca, kita tidak perlu lagi menyuruh mereka. Mereka akan mencari buku dengan sendirinya. Pertanyaannya sekarang: sudahkah kita menyajikan “bacaan selezat pizza” untuk mereka!?

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OPINI : Membaca Buku Senikmat Pizza

  Membaca Buku Senikmat Pizza Oleh: Ridwan Taufiq   “Pak, saya sudah membaca,” sebuah jawaban lantang itu sering terdengar di kelas, k...