Membaca
Buku Senikmat Pizza
Oleh: Ridwan Taufiq
“Pak, saya sudah membaca,” sebuah jawaban lantang itu sering
terdengar di kelas, ketika mendapat tugas membaca senyap. Namun, ketika ditanya
kembali isi bacaan itu, siswa terdiam. Padahal baru saja selesai membaca satu
halaman. Ketika disuruh membaca nyaring, titik dan koma dilompati tanpa jeda.
Padahal, justru pada jeda itulah sebenarnya proses berpikir terjadi. Bacaan
sedang benar-benar dinikmati. Sebagai guru, penulis beranggapan bahwa mereka
membaca belum sepenuhnya dimaknai sebagai proses memahami. Siswa masih
memandang membaca sebagai kegiatan mengeja kata. Ketika siswa diminta membaca
nyaring, suara mereka seperti motor tanpa rem, melaju tanpa jeda. Titik dan
koma ditabrak begitu saja, tidak berhenti. Tidak ada ruang mereka untuk
berpikir. Tidak ada rasa saat mereka membaca. Dan tentu saja tidak ada waktu mereka
untuk memahami.
Fenomena ini barangkali tidak terjadi pada semua siswa. Namun
cukup untuk membuat kita merasa khawatir. Bahwa membaca seolah hanya maknai
sebagai aktivitas mengeja kata, menyuarakan huruf, dan menyelesaikan kata demi kata
setiap kalimat. Menelusuri stiap paragraph dalam sebuah wacana teks. Padahal,
membaca sejatinya bukan sekadar melafalkan, melainkan memahami. Di sinilah
penulis anggap letak persoalannya.
Apa membaca itu?
Membaca adalah proses berpikir. Ketika mata menelusuri setiap
teks, sesungguhnya otak sedang bekerja. Ia sedang menafsirkan, menghubungkan,
dan memaknai di balik teks itu. Jeda pada titik dan koma bukan sekadar aturan
tanda baca, melainkan ruang bagi pikiran untuk menikmani, mencerna. Tanpa itu, maka
membaca akan kehilangan maknanya.
Membaca sejatinya adalah aktivitas kognitif. Ia melibatkan
pemahaman, penafsiran, dan refleksi. Tanpa itu, membaca hanya menjadi rutinitas
tanpa makna. Untuk menumbuhkan minat baca, penulis rasa perlu pendekatan yang lekat
dengan pengalaman siswa. Salah satu diantaranya adalah analogi sederhana, yaitu
membaca seperti menikmati pizza.
Lalu, Bagaimana membuat
membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan senikmat Pizza?
Analogi ini mungkin sederhana dan membumi: sepotong pizza. Ini
hanya sebagian analogi, bisa pada makanan lain yang memilki daya tarik selera
anak. Yang diperlukan adalah mengubah cara pandang. Bayangkan membaca seperti
menikmati sepotong pizza hangat. Pizza yang sedang terhidang lezat memiliki
daya tarik. Aroma yang menggoda, tampilan yang menarik, dan tentu saja rasa
yang pasti memuaskan. Buku yang baik pun demikian. Judul yang memikat, tampilan
yang menarik, serta isi yang relevan akan membuat siswa tertarik untuk membaca.
Saat kita melihat pizza, sebelum mencicipinya pun, kita pasti sudah tergoda.
Aroma dan tampilan yang menggugah selera, dan keinginan untuk segera
menyantapnya begitu kuat. Membaca buku, pun seharusnya seperti itu.
Maka, buku yang baik adalah buku yang “mengundang selera”. Judul
yang menggoda, seperti aroma pizza yang tercium dari kejauhan. Sampul buku yang
menarik, seperti tampilan pizza yang membuat mata sulit berpaling. Dan isinya, tentu
saja harus lezat; mudah dipahami, relevan, dan akan memberi kepuasan batin
setelah membacanya. Di sinilah, membaca akan teras nikmat.
Lebih dari itu, buku adalah “makanan ruhani”. Ia tidak hanya
mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan akal pikiran. Seperti makanan bergizi
bagi tubuh, buku yang baik mengandung “nutrisi” yang menyehatkan. Nutrisi itu berupa
gagasan, nilai, pelajaran, dan hikmah yang mampu menggugah dan menggerakkan pikiran
kita. Sebagai “makanan ruhani”, buku pun akan memberikan nutrisi lain berupa
pengetahuan dan nilai kehidupan. Buku yang berkualitas akan mampu menggerakkan
pikiran dan menumbuhkan sikap kritis.
Maka, analogi buku yang “selezat pizza” adalah buku yang: akan
menggugah rasa ingin tahu sejak dari judulnya; disajikan dengan bahasa yang
mudah dipahami; dekat dengan kehidupan pembaca; membuat pembaca ingin terus
melanjutkan; dan tentu saja meninggalkan kesan mendalam setelah selesai dibaca.
Sebaliknya, buku yang terasa “hambar” akan sulit menarik minat, terutama bagi
siswa yang sedang belajar mencintai membaca. Ia akan membosankan. Sulit
disentuh, apalagi di”habiskan”. Karena itu, penting memilih buku yang tepat, terutama
untuk siswa. Buku harus sesuai dengan usianya, dekat dengan kehidupan mereka,
dan yang pasti mampu membangkitkan rasa ingin tahu mereka.
Peran Guru (dan Orang Tua), seperti
apa?
Bagi penulis merasa, di sinilah peran penting guru (dan juga
orang tua). Kata DR Drajat, seorang ahli Hypnoteaching,
bahwa peradaban pendidikan tidak dibentuk dari Gedung-gedung yang megah, tetapi
melalui ruang kelas kecil yang penuh makna. Guru mendapat peran sangat penting di
dalam kelas untuk menumbuhkan selera literasi. Guru tidak hanya mengajarkan
cara membaca, tetapi juga membimbing siswa bagaimana menikmati bacaan. Meyakinkan
mereka bahawa setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, memberi
waktu mereka untuk menikmati dan memikirkan apa yang sedang mereka baca. Bahawa
setiap jeda pada titik dan koma seperti menggigit pizza, membuat mereka merasa
bahagia dan penuh dengan ide-ide yang baru. Begitu pula dengan peran orang tua
di rumah.
Perintah “Iqro” yang menjadi awal tradisi literasi kita, juga
mengandung makna mendalam. Ternyata membaca tidak hanya teks, tetapi juga
kehidupan, peristiwa, dan kenyataan hidup di sekitar kita. Membaca bukan
sekadar keterampilan, melainkan kebutuhan. Jika siswa kita sudah merasakan
betapa “nikmatnya” membaca, maka literasi akan tumbuh secara alami. Bukan
karena paksaan, tetapi karena kebutuhan. Bahkan dalam konteks yang lebih luas,
membaca adalah bagian dari literasi. Membaca adalah sebuah kemampuan dasar
manusia dalam berbahasa, setelah menyimak dan berbicara, yang kemudian bermuara
pada menulis. Membaca yang baik akan melahirkan pemahaman, dan pemahaman akan
melahirkan gagasan.
Sebagaiman penulis katakan, perintah pertama yang diturunkan
kepada manusia adalah “Iqro”, bacalah. Namun membaca di sini bukan sekadar
membaca teks, melainkan membaca kehidupan: memahami fenomena, peristiwa, dan
tanda-tanda alam semesta. Maka, membaca sejatinya adalah upaya memahami: memahami
diri; memahami dunia; memahami kehidupan. Jika membaca sudah sampai pada tahap
itu, ia tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Bahkan, bisa menjadi sebuah
kenikmatan seperti pizza. Pertanyaannya, sudahkah kita menghadirkan buku-buku
yang mampu membuat siswa “lapar” untuk membaca? Atau jangan-jangan, selama ini
kita hanya menyuruh mereka makan, tanpa memastikan apakah hidangannya menggugah
selera?
Maka, dapat dipastikan bahwa perubahan besar peradaban Pendidikan
tadi, serta menyongsong Indonesia melahirkan generasi emas tahun 2045, bisa
dimulai dari hal sederhana, seperti: memilihkan buku yang tepat, membimbing
cara membaca yang benar, dan menumbuhkan rasa bahwa membaca itu nikmat. Memulai
dari satu halaman. Satu buku. Kemudian Satu rasa. Sampai akhirnya, siswa
benar-benar merasakan bahwa membaca bukan sekadar kegiatan yang dipaksakan,
melainkan kebutuhan yang dirindukan, dinikmati, dan selalu ingin diulang
kembali. Kalau siswa sudah “lapar” membaca, kita tidak perlu lagi menyuruh
mereka. Mereka akan mencari buku dengan sendirinya. Pertanyaannya sekarang: sudahkah
kita menyajikan “bacaan selezat pizza” untuk mereka!?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar