Oleh: Ridwan Taufiq
“Pak, saya tidak bisa
menulis”
“Ya, itu. Tulislah
kalimat itu,’saya tidak bisa menulis’!”
“Kok, begitu, Pak?”
“Iya. Coba tulis saja!”
“Kemudian lanjut
tulisannya,’kenapa saya tidak bisa menulis?’, terus saja tanyakan dan kamu
jawab sendiri di dalam tulisan itu. Akhirnya kamu akan bisa menulis. Karena
sebenarnya kamu sedang menulis.”
Adegan dramatis itu kerap
terjadi saat pelajaran Bahasa Indonesia pada elemen menulis. Dimana seorang guru menghimbau anak didiknya untuk
mebiasakan menulis buku harian setiap hari jelang tidur. Cukup beberapa
kalimat. Tiga atau lima kalimat. Lima baris dalam kebiasaan sebutan mereka.
Entah mereka mengerjakan atau tidak.
Ada fenomena menarik yang
muncul saat siswa disuruh menulis, ialah “mandek”. Sementara saat sebelumnya
mereka ngobrol begitu ramainya. Mereka berbicara karena ada lawan bicara.
Sementara menulis, anggapannya tidak ada lawan menulis.
Sesungguhnya di pelajaran
teks deskripsi, siswa ditugaskan membawa objek sebagai lawan menulis. Objek
bisa menjadi lawan dalam kegiatan menulis. Objek deskripsi bisa sebuah benda
kesukaan: jam tangan, boneka, buku, dan benda kesukaan lainnya. Ketika benda
itu di bawa ke kelas, mereka tetap mandek. Tulisan mereka biasanya, “Ini boneka
saya. Warnanya putih. Saya suka,” sudah. Berhenti. Apa masalahnya?
Yang jelas, begitu
kontras antara lisan yang begitu lancar, dengan tulisan yang selalu buntu.
Sehingga bagi saya muncul pertanyaan retoris: “Kenapa ide mereka deras saat
ngobrol, tetapi sulit saat menulis?”
Apakah disebabkan, karena
ngobrol adalah proses alami? Sementara menulis merupakan proses yang harus
diciptakan?
Siswa dan manusia pada
umumnya spontan saat berbicara. Kendatipun pembicaraannya kemana-mana, dan
mungkin tidak direncana. Sehingga pembicaraan terasa ringan dan tidak harus
rapi.
Sementara yang kita
ketahui kalau menulis itu harus teratur, perlu struktur, ada pemilihan kata,
dan harus ada bentuk. Sehingga siswa tidak terbiasa memindahkan ide atau
pikirannya ke dalam bentuk teks.
Di sinilah letak menulis
menjadi terasa berat bagi siswa. Dimana mereka harus: memikirkan ide, menyusun
kalimat, memperhatikan ejaan, memperhatikan bentuk, dan lain-lain. Inilah yang
barangkali membuat siswa cepat lelah secara kognitif, bahkan sebelum mereka
memulai.
Hal lain yang dihadapi
siswa ketika menulis adalah takut salah atau dianggap jelek. Ketika ngobrol,
mereka ringan karena tidak dinilai, sehingga terasa aman. Sementara menulis ada
penilaian, sehingga terasa ada tekanan. Maka, apa yang terjadi? Adalah overthingking dan memilih diam daripada dinilai
salah.
Atau barangkali karena
tidak terbiasa menulis sehingga menjadi terasa berat. Seperti halnya ngobrol
yang menjadi kebiasaan dan terasa alami. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan,
awalnya mengalami kesulitan. Sebagaiman sebagian kecil siswa yang diawal
pergaulannya terlihat terasa sulit untuk bisa ngobrol dengan temannya. Tetapi
lama kelamaan ia terus berhadapan dengan temannya dan ngobrol. Sehingga menjadi
terbiasa. Barangkali demikian pula dengan menulis. Jika diawal terasa sulit,
jika terus menerus akan terasa mudah. Bahkan akan menjadi kebiasaan.
Disinilah barangkali
siswa harus dilatih terus menerus dalam menulis agar menjadi terbiasa. Untuk
menjadi kebiasaan, maka perlu tahapan dalam proses pembiasaannya. Kalau realita
yang ada bahwa siswa sering disuruh menulis sebuah paragraf, misalnya, tanpa
ada tahapan, maka bisa jadi sulit.
Kemudian topik tidak dekat
dengan dunia siswa. Ngobrol, tentu saja tentang hal yang mereka alami. Sementara
menulis, sering pada topik yang “jauh” dari dunianya. Akibatnya, ide mereka
tidak muncul. Tulisan mereka terasa dipaksakan.
Menulis terlalu cepat masuk
ke “Formalitas”. Siswa belum selesai menuangkan ide, tapi sudah
dituntut: rapi, baku, sesuai kaidah. Menurut penulis, ini bisa mematikan
keberanian mereka mengawali menulis.
Maka pertanyaan refleksi bagi
kita sebagai guru : Apakah kita terlalu cepat menilai? Kurang memberi
ruang eksplorasi? Langsung ke hasil, bukan proses?
Maka
harus ada jalan atau jembatan yang bisa menghubungkan ngobrol ke menulis.
Mengubah ngobrol menjadi bahan tulisan bisa dengan diskusi, misalnya. Atau
dengan tulis ulang dengan pertanyaan pemantik, “Kamu tadi bilang apa? Coba
tulis!”
Kemudian
mulai dengan satuan bahasa yang terkecil. Bisa mulai dengan satu kalimat.
Buatlah satu kalimat dengan menggunakan kata “kursi”! Rangkaikan kata-kata
kunci berikut: ibu, pasar, sayur, adik. Maka, mereka bisa merangkaikannya dengan
banyak ragam sesuai yang mereka fahami: Ibu
pergi ke pasar membeli sayur bersama adik; Ibu berangkat ke pasar menjual sayur bersama adik; Ibu pergi ke pasar
membeli sayur bertemu dengan adik; dengan beragam kalimta lainnya. Terus
begitu. Tidak langsung disuruh menulis satu paragraf. Biarkan tulisannya terasa
kasar terlebih dahulu.
Menulis bukanlah bakat, tetapi kebiasaan. Siswa sebenarnya punya bahan untuk menulis tetapi belum terbiasa dan kurang dilatih terus menerus untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Lagi-lagi, mungkin masalahnya bukan siswa tidak bisa menulis, tetapi kita belum menemukan jalan yang dapat menghubungkan dunia lisan mereka ke dunia tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar