Kamis, 09 Juli 2026

Fenomena Siswa: Menulis Terasa Berat, Ngobrol Begitu Ringan.

 

Oleh: Ridwan Taufiq


“Pak, saya tidak bisa menulis”

“Ya, itu. Tulislah kalimat itu,’saya tidak bisa menulis’!”

“Kok, begitu, Pak?”

“Iya. Coba tulis saja!”

“Kemudian lanjut tulisannya,’kenapa saya tidak bisa menulis?’, terus saja tanyakan dan kamu jawab sendiri di dalam tulisan itu. Akhirnya kamu akan bisa menulis. Karena sebenarnya kamu sedang menulis.”

 

Adegan dramatis itu kerap terjadi saat pelajaran Bahasa Indonesia pada elemen menulis.  Dimana seorang guru menghimbau anak didiknya untuk mebiasakan menulis buku harian setiap hari jelang tidur. Cukup beberapa kalimat. Tiga atau lima kalimat. Lima baris dalam kebiasaan sebutan mereka. Entah mereka mengerjakan atau tidak.

 

Ada fenomena menarik yang muncul saat siswa disuruh menulis, ialah “mandek”. Sementara saat sebelumnya mereka ngobrol begitu ramainya. Mereka berbicara karena ada lawan bicara. Sementara menulis, anggapannya tidak ada lawan menulis.

 

Sesungguhnya di pelajaran teks deskripsi, siswa ditugaskan membawa objek sebagai lawan menulis. Objek bisa menjadi lawan dalam kegiatan menulis. Objek deskripsi bisa sebuah benda kesukaan: jam tangan, boneka, buku, dan benda kesukaan lainnya. Ketika benda itu di bawa ke kelas, mereka tetap mandek. Tulisan mereka biasanya, “Ini boneka saya. Warnanya putih. Saya suka,” sudah. Berhenti. Apa masalahnya?

 

Yang jelas, begitu kontras antara lisan yang begitu lancar, dengan tulisan yang selalu buntu. Sehingga bagi saya muncul pertanyaan retoris: “Kenapa ide mereka deras saat ngobrol, tetapi sulit saat menulis?”

 

Apakah disebabkan, karena ngobrol adalah proses alami? Sementara menulis merupakan proses yang harus diciptakan?

 

Siswa dan manusia pada umumnya spontan saat berbicara. Kendatipun pembicaraannya kemana-mana, dan mungkin tidak direncana. Sehingga pembicaraan terasa ringan dan tidak harus rapi.

 

Sementara yang kita ketahui kalau menulis itu harus teratur, perlu struktur, ada pemilihan kata, dan harus ada bentuk. Sehingga siswa tidak terbiasa memindahkan ide atau pikirannya ke dalam bentuk teks.

 

Di sinilah letak menulis menjadi terasa berat bagi siswa. Dimana mereka harus: memikirkan ide, menyusun kalimat, memperhatikan ejaan, memperhatikan bentuk, dan lain-lain. Inilah yang barangkali membuat siswa cepat lelah secara kognitif, bahkan sebelum mereka memulai.

 

Hal lain yang dihadapi siswa ketika menulis adalah takut salah atau dianggap jelek. Ketika ngobrol, mereka ringan karena tidak dinilai, sehingga terasa aman. Sementara menulis ada penilaian, sehingga terasa ada tekanan. Maka, apa yang terjadi? Adalah overthingking dan memilih diam daripada dinilai salah.

 

Atau barangkali karena tidak terbiasa menulis sehingga menjadi terasa berat. Seperti halnya ngobrol yang menjadi kebiasaan dan terasa alami. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, awalnya mengalami kesulitan. Sebagaiman sebagian kecil siswa yang diawal pergaulannya terlihat terasa sulit untuk bisa ngobrol dengan temannya. Tetapi lama kelamaan ia terus berhadapan dengan temannya dan ngobrol. Sehingga menjadi terbiasa. Barangkali demikian pula dengan menulis. Jika diawal terasa sulit, jika terus menerus akan terasa mudah. Bahkan akan menjadi kebiasaan.

 

Disinilah barangkali siswa harus dilatih terus menerus dalam menulis agar menjadi terbiasa. Untuk menjadi kebiasaan, maka perlu tahapan dalam proses pembiasaannya. Kalau realita yang ada bahwa siswa sering disuruh menulis sebuah paragraf, misalnya, tanpa ada tahapan, maka bisa jadi sulit.

 

Kemudian topik tidak dekat dengan dunia siswa. Ngobrol, tentu saja tentang hal yang mereka alami. Sementara menulis, sering pada topik yang “jauh” dari dunianya. Akibatnya, ide mereka tidak muncul. Tulisan mereka terasa dipaksakan.

Menulis terlalu cepat masuk ke “Formalitas”. Siswa belum selesai menuangkan ide, tapi sudah dituntut: rapi, baku, sesuai kaidah. Menurut penulis, ini bisa mematikan keberanian mereka mengawali menulis.

 

Maka pertanyaan refleksi bagi kita sebagai guru : Apakah kita terlalu cepat menilai? Kurang memberi ruang eksplorasi? Langsung ke hasil, bukan proses?

 

Maka harus ada jalan atau jembatan yang bisa menghubungkan ngobrol ke menulis. Mengubah ngobrol menjadi bahan tulisan bisa dengan diskusi, misalnya. Atau dengan tulis ulang dengan pertanyaan pemantik, “Kamu tadi bilang apa? Coba tulis!”

 

Kemudian mulai dengan satuan bahasa yang terkecil. Bisa mulai dengan satu kalimat. Buatlah satu kalimat dengan menggunakan kata “kursi”! Rangkaikan kata-kata kunci berikut: ibu, pasar, sayur, adik. Maka, mereka bisa merangkaikannya dengan banyak ragam sesuai yang mereka fahami: Ibu pergi ke pasar membeli sayur bersama adik; Ibu berangkat ke pasar menjual sayur bersama adik; Ibu pergi ke pasar membeli sayur bertemu dengan adik; dengan beragam kalimta lainnya. Terus begitu. Tidak langsung disuruh menulis satu paragraf. Biarkan tulisannya terasa kasar terlebih dahulu.

 

Menulis bukanlah bakat, tetapi kebiasaan.  Siswa sebenarnya punya bahan untuk menulis tetapi belum terbiasa dan kurang dilatih terus menerus untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Lagi-lagi, mungkin masalahnya bukan siswa tidak bisa menulis, tetapi kita belum menemukan jalan yang dapat menghubungkan dunia lisan mereka ke dunia tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Siswa: Menulis Terasa Berat, Ngobrol Begitu Ringan.

  Oleh: Ridwan Taufiq “Pak, saya tidak bisa menulis” “Ya, itu. Tulislah kalimat itu,’saya tidak bisa menulis’!” “Kok, begitu, Pak?” “Iya. Co...