Kamis, 02 Juli 2026

Realita Siswa Membaca Terasa Berat, Benarkah?

 Oleh: Ridwan Taufiq


Udara cerah, mentari mulai menampakkan sinarnya, menyelinap kaca jendela menghangati ruang-ruang kelas sederhana. Angin setia mengipas kesegaran ke setiap sudut kelas dengan kibar sang saka Merah Putih di tiang sepanjang dua meter menjulang ke langit. Ketika itu, penulis melintas setiap kelas menuju kelas di ujung sana, mengisi jam pelajaran.

Pagi itu di kelas, penulis meminta siswa membaca sebuah tek deskripsi berjudul “Pantan Terong yang Instagramable”. Teksnya tidak Panjang, hanya dua halaman – sekitar 250 atau 300 kata. Respons mereka seragam, hampir seragam: menarik nafas, wajah datar, dan beberapa siswa nyeletuk, “Pak, ini panjang banget, ya?”

Padahal sepanjang lintasan kelas, di saat yang sama penulis masih teringat melihat siswa-siswi ketawa-ketiwi, sepertinya sedang membaca chat group. Kesempatan lain barangkali mereka sangat serius mengikuti cerita di medos. Bahkan mungkin hafal alur video yang mereka tonton semalaman. Tidak tampak wajah datar seperti “alergi membaca”.

Benarkah Siswa Malas Membaca?

Pertanyaan: benarkah siswa malas membaca? Ini menimbulkan pertanyaan susulan: Apakah kita yang salah cara menyajikan bacaan yang tepat? Asumsi penulis, yang berat bukan aktivitas membacanya. Namun, cara kita memperkenalkan bacaan itu sendiri.

 Di sekolah, membaca sering dilakukan dalam bentuk yang seragam. Buku yang seragam. Penerbit yang seragam pula. Teksnya panjang, bahasa baku, dan pertanyaan yang memaksa jawaban benar. Siswa diminta memahami, menganalisis lalu menjawab. Semua terasa seperti kewajiban yang harus segera diselesaikan. Bukan sebuah pengalaman yang ingin “dinikmati”.

Sementara di luar kelas sana, bahkan di rumah, siswa berhadapan dengan teks yang beragam. Tulisan yang berbeda sama sekali. Teks yang mereka temui di gawai cenderung ringkas. Tulisan yang mereka baca dekat dengan keseharian. Dan pasti sesuai dengan konteks yang mereka fahami. Rasa terbebas dari paksaan, dengan memasang wajah ceria. Tidak ada tekanan untuk “harus benar”. Yang ada hanya rasa ingin tahu dan atau sekedar hiburan. Nikmat rasanya. Di sinilah, penulis melihat ada jarak!

Di era kecerdasan buatan, dunia bergerak begitu cepat. Begitu pun dengan siswa. Dunianya ikut bergerak dengan cepat. Di era transformasi digital, siswa lebih visual dan interaktif. Siswa bisa mengetahui berita viral lebih cepat. Mereka bisa mengingat tren di media social. Mereka aktif berkomentar di dunia maya.

Sementara dunia kelas masih sering kali bertahan di dalam pola linier dan satu arah. Kita memaksa mereka masuk ke dunia teks yang teras asing – bukan dunianya. Mereka perlu jembatan pada dunia yang sudah sangat mereka kenal. Dan akibatnya, membaca teras berat.

Atau, Kita yang Salah Menyajikan!

Anthony Trollope, seorang novelis Inggris, pernah berkata, “Bahwa Saya bisa membaca dan merasa bahagia saat membaca, adalah sebuah berkah yang besar.” Bisakah kita mengondisikan agar siswa membaca merasa bahagia!

Bila kita lebih jujur, siswa sebenarnya tetap membaca. Siswa kita membaca percakapan, membaca situasi, membaca perasaan dalam konflik, memahami alur dalam cerita digital. Bahkan, mereka aktif mengomentari segala hal di dunia digital. Hanya mungkin, aktivitas membaca mereka kerap kita tidak mengakuianya sebagai bagian proses belajar.

Kita barangkali sering terjerumus pada sebuah anggapan bahwa membaca itu harus “serius”. Membaca harus dalam bentuk teks yang panjang. Menggunakan bahasa formal dan analisis yang mendalam. Bagi penulis, tentu saja itu tidak salah. Namun, ketika hal itu menjadi satu-satunya jalan masuk, banyak siswa akan merasa tertinggal sebelum benar-benar memulainya. Maka, mungkin yang harus kita ubah bukan tujuan atau tuntutan akhir, melainkan jalannya.

Keterlibat Guru dan Orang Tua Siswa

Peran kita sebagai guru tentu saja menjadi penting. Bukankah peran guru tidak sekadar pemberi materi, tetapi fasilitator berpikir. Kita berperan sebagai pembimbing literasi dan pengarah makna. Sebagai guru, kita dituntut inovatif. Agar inovatif, tepat sekali jika kita banyak berekplorasi dengan berbagai pertanyaan: bagaimana jika membaca itu dimulai dengan sesuatu yang lebih dekat? bagaimana jika teks yang diberikan memiliki kaitan secara langsung dengan pengalaman siswa? bagaimana jika membaca tidak harus diikuti dengan pertanyaan yang menekan, cukup dengan memberi ruang untuk bereaksi dan berpendapat? 

Pertanyaan demi pertanyaan ini tidak selalu mudah untuk dijawab. Sebagai guru, kita terikat pula dengan kurikulum, capaian pembelajaran, dan keterbatasan alokasi waktu. Namun, setidaknya kita sediakan ruang kecil untuk beresperimen, menggeser sedikit cara penyajian, tanpa harus mengubah tujuan.

Penulis menemukan, bahwa ketika siswa merasa releat atau terhubung dengan teks yang dibaca, mereka tidak lagi sibuk menghitung-hitung jumlah paragraf. Setiap paragraf dikupas, diam sejenak dan dinikmati. Mereka mulai membaca dengan rasa ingin tahu, bukan sekedar kewajiban. Pada tahap ini, membaca tidak lagi terasa berat.

Barangkali selama ini kita begitu cepat menyimpulkan bahwa siswa tidak berminat membaca. Padahal, bisa jadi mereka belum menemukan alasan mengapa mereka membaca teks yang kita berikan. Maka, sebelum nebgatakan “anak-anak sekarang melas membaca”, betapa tidak jika kita bertanya sejenak: apakah bacaan yang kita hadirkan sudah cukup dekat dengan dunia mereka. Ataukah justru kita yang belum cukup berusaha mendekatkannya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Realita Siswa Membaca Terasa Berat, Benarkah?

  Oleh: Ridwan Taufiq U dara cerah, mentari mulai menampakkan sinarnya, menyelinap kaca jendela menghangati ruang-ruang kelas sederhana . An...