Kamis, 13 Agustus 2026

PUISI UNTUK NEGERI

 Ridwan Taufiq

 


Untuk negeri yang lebih baik, dengarlah harapan dan keluh ku

Kala merajut nikmat kemerdekaan dari penjajahan yang sekian masa membelunggu.

 

Saat jelang usiamu delapan puluh satu yang mulai renta, kulihat keriput wajahmu

Menyimpan sejarah perjuangan atas jeratan dan penindasan kelam masa lalu.

 

Tidakkah menyisakan mutiara ilmu dan filosofi hidup.

 

Keluhku melahirkan perasaan susah

dengan mengaduh, kutarik napas

dan ungkapan yang keluar karena derita yang berat, dan kesakitan ragamu negeriku.

 

Keluh kesahku

lahirkan segala ucap kepedihan gelisah, kesal, dan tak senang atas jiwamu negeriku

ucapan memanjang seperti gumaman sampaikan pikiran atas nasibmu

hingga bersenandika bak tokoh dalam drama berbicara dengan dirinya

sebagai ungkapkan rasa, firasat, dan batin atas mu wahai negeriku.

 

Keluhku tak tenteram, rasa khawatir tak tenang, tak sabar dalam menanti masa depanmu.

Cemas seperti mendengar desas-desus rumah yang akan digusur di belahan bumimu negeriku.

 

Gelisah dan resah bergabung dalam keluh

bersama kecemasan, risau hati,  bahkan takut seperti akan mendengar kabar berperang

di dalam ragamu sendiri

bahkan ancaman tentang wabah atau menantikan keputusan akhir riwayatmu.

 

Rusuh hati bercampur cemas, negeriku.

kacau, dalam keadaan tidak aman dan mengikis ketenteraman pengisismu, negeriku

karena takut hingga menikus, berdiam miliaran kata.

 

Namun, harapan lebih baik bagimu

tak pernah lepas menemani dan menghangatkan batinku.

 

Dirgahayu Rewpublik Indonesia

Rabu, 12 Agustus 2026

Ketika Jabatan Melahirkan Kesombongan

 

Oleh: Ridwan Taufiq

 

 

“Kalian siap jadi KM?” Saya bertanya pada lima bakal calon ketua kelas hasil pengumpulan suara terbanyak sistem formatur.

“InsayAlloh, siap, pa” salah satu siswa menjawab.

“Kamu?” saya coba bertanya pada salah satu balon yang juga terpilih dalam formatur.

“Emmh …. Siap, pa.” Jawabnya agak lama. Beberapa calon lain saya tanya, jawabannya tidak siap karena ini amanah yang berat katanya.

“Baik, dari kelima balon ini, dua hari lagi kita akan menentukan siapa calon Ketua Kelas kita.”

 

Beberapa hari kemudian seorang siswa mulai mengatur teman-temannya padahal belum terpilih. Siswa yang lainnya yang justru menolak menjadi ketua tetapi akhirnya mampu menjalankan amanah dengan baik. Inilah potret kecil saat di kelas mengadakan pemilihan ketua kelas di awal tahun ajaran.

 

Awal tahun ajaran selalu menghadirkan suasana yang khas. Wajah-wajah baru di kelas, semangat yang masih segar, serta harapan agar satu tahun ke depan berjalan dengan baik. Bagi seorang wali kelas, ada satu kegiatan yang hampir selalu dilakukan pada hari-hari pertama, yaitu membentuk kepengurusan kelas.

 

Sekilas kegiatan ini tampak sederhana. Bagi penulis sebagai wali kelas, di sinilah proses belajar kepemimpinan pertama kali akan dimulai. Menentukan ketua kelas atau ketua murid (KM) sepertinya bukan sekadar memilih siapa yang paling pintar atau paling berani berbicara. Namun lebih dari itu, kegiatan ini akan sangat menentukan bagaimana keterjalinan antar siswa, kerja sama, komunikasi, dan interaksi pembelajaran dapat tumbuh di dalam kelas.

 

Menariknya, setiap kali proses pemilihan berlangsung, saya selalu memperoleh kesempatan untuk mengamati karakter para siswa. Ada yang sejak awal tampak begitu ingin menjadi pemimpin. Ia tidak mengatakannya secara langsung, tetapi bahasa tubuhnya menunjukkan keinginannya. Ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan, namun masih dipenuhi pertimbangan. Mereka tampak ragu menerima amanah, tetapi ketika diberi kepercayaan justru mampu menjalankannya dengan baik.

 

Di tengah proses itu, saya sering menemukan satu gejala yang patut diwaspadai. Benih-benih kesombongan kadang mulai terlihat. Bukan dalam bentuk ucapan yang kasar atau terang-terangan merasa paling hebat, melainkan melalui sikap yang mulai ingin lebih menonjol, ingin lebih dihargai, atau mulai memandang dirinya lebih layak dibanding teman-temannya.

 

Di sinilah saya menyadari bahwa kepemimpinan selalu membawa ujian. Jabatan sekecil apa pun dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya rasa sombong apabila tidak disertai kesadaran bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan kemuliaan pribadi.

 

Fenomena kecil di ruang kelas itu sesungguhnya merupakan miniatur kehidupan yang lebih luas. Apa yang terjadi di kelas sering kali kita temukan pula di lingkungan masyarakat. Mulai dari kepemimpinan di tingkat RT, RW, desa atau kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga kepemimpinan nasional. Bedanya hanya pada skala dan dampaknya. Hakikat ujiannya tetap sama: apakah jabatan menjadikan seseorang semakin rendah hati atau justru semakin tinggi hati.

 

Islam sejak awal telah mengingatkan bahaya kesombongan. Rasulullah SAW bersabda,“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

 

Ucapan Nabi SAW. lima belas abad lalu ini memberikan penjelasan yang sangat penting, bahwa kesombongan bukan diukur dari pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dimiliki, atau penampilan yang mewah. Kesombongan adalah ketika seseorang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

 

Sikap inilah yang dahulu menjerumuskan iblis. Ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam karena merasa dirinya lebih mulia. Kesombongan membuatnya tidak lagi mampu melihat kebenaran, melainkan hanya melihat kelebihan dirinya sendiri, sekaligus merendahkan orang lain.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu pemicu terbesar munculnya kesombongan adalah jabatan. Jabatan memang dapat mengangkat derajat seseorang di mata manusia, tetapi pada saat yang sama juga menjadi ujian yang sangat berat di hadapan Allah. Ketika jabatan dipahami sebagai amanah, ia akan melahirkan pelayanan, keteladanan, dan menumbuhkan berbagai kebaikan yang bernilai pahala. Sebaliknya, ketika jabatan membuat seseorang merasa lebih tinggi, enggan menerima kritik, atau memandang rendah bawahannya, saat itulah ia sedang berjalan menuju kesombongan.

 

Kita tentu masih sering menyaksikan berbagai persoalan di negeri ini. Di bidang politik, misalnya, polarisasi yang berkepanjangan membuat perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan. Kritik yang seharusnya menjadi vitamin demokrasi kadang dipandang sebagai ancaman. Di sisi lain, sebagian masyarakat pun kehilangan kepercayaan karena merasa suaranya tidak lagi didengar.

 

Dalam bidang ekonomi, masih ada jurang kesejahteraan yang lebar. Di tengah pertumbuhan dan pembangunan yang terus berlangsung, masih banyak warga yang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebijakan yang kurang peka terhadap kondisi masyarakat kecil sering kali menimbulkan kesan bahwa keputusan dibuat dari balik meja, bukan dari denyut kehidupan rakyat.

 

Dalam kehidupan sosial, kita juga menyaksikan meningkatnya sikap saling merendahkan, mudah menyalahkan, dan enggan berdialog, serta mempertahankan ego. Perbedaan pendapat lebih sering dibalas dengan cemoohan daripada argumentasi. Budaya saling mendengar, pun perlahan digantikan oleh keinginan untuk selalu menang.

 

Tentu, semua persoalan itu tidak dapat disederhanakan sebagai akibat kesombongan seorang pemimpin. Banyak faktor yang memengaruhinya. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa ketika seorang pemimpin enggan menerima kritik, merasa paling benar, atau memandang rendah suara orang lain, keadaan biasanya akan semakin memburuk. Jika pemimpin tidak menyadari kekurangan dan kesalahannya, alih-alih membuka diri untuk diperbaiki malah menutupinya dengan topeng kesempurnaan. Penuh pencitraan. Maka, perlahan kehancuran tinggal menunggu saatnya.

 

Kesombongan membuat telinga tertutup, sedangkan kepemimpinan justru membutuhkan kemampuan untuk mendengar. Karena itu, seorang pemimpin yang rendah hati bukanlah pemimpin yang tidak pernah salah, melainkan pemimpin yang bersedia dikoreksi. Ia tidak menganggap kritik sebagai ancaman, tetapi sebagai cermin. Ia tidak merasa paling mengetahui segala hal, tetapi sadar bahwa keputusan terbaik sering lahir dari musyawarah dan kesediaan mendengarkan.

 

Banyak negara hancur bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak pemimpin yang merasa dirinya paling benar. Ketika seorang pemimpin berhenti mendengar, saat itulah kesombongan mulai mengambil alih kepemimpinannya. Ironisnya, kesombongan dalam kepemimpinan sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Ia merasa sedang menunjukkan kewibawaan, padahal orang lain merasakan kesewenang-wenangan. Ia menganggap sedang menjaga martabat jabatan, padahal sesungguhnya sedang memelihara ego.

 

Karena itulah, lawan terbaik dari kesombongan adalah rendah hati atau tawadhu. Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menyadari bahwa semua kelebihan berasal dari Allah dan setiap manusia memiliki kemuliaannya masing-masing.

 

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,“Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumahmu lalu bertemu seorang muslim, kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

 

Ungkapan ini mengajarkan cara pandang yang indah. Ketika bertemu orang lain, kita tidak sibuk mencari kekurangannya, melainkan berusaha meyakini bahwa mungkin saja ia lebih baik di hadapan Allah daripada diri kita.

 

Barangkali, inilah pelajaran paling penting dari proses memilih ketua kelas di awal tahun ajaran. Kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang paling ingin berada di depan, melainkan siapa yang paling siap melayani. Jabatan bukanlah panggung untuk meninggikan diri, tetapi kesempatan untuk memperbanyak manfaat.

 

Semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya. Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, melainkan juga pemimpin yang mau mendengar, mau menerima kebenaran, dan tidak merasa dirinya selalu benar bahkan merendahkan orang lain.

 

Dari ruang kelas itulah saya belajar bahwa benih kepemimpinan tumbuh bersamaan dengan datangnya sebuah ujian. Ujian itu bukan hanya tentang kemampuan memimpin, melainkan juga kemampuan mengendalikan kesombongan.

 

Menjadi renungan bagi kita, untuk bercermin bukan menyalahkan orang lain. Jangan-jangan benih kesombongan itu bukan hanya ada pada para pemimpin besar, tetapi juga mulai tumbuh dalam diri kita ketika diberi amanah sekecil apa pun.

 

Dan rasanya tidak adil jika tulisan ini hanya diarahkan kepada mereka yang memimpin di ruang-ruang publik. Sebab, sesungguhnya kita semua adalah pemimpin. Ada yang memimpin keluarga, memimpin kelas, memimpin organisasi, memimpin sekolah, memimpin sebuah tim kerja, bahkan memimpin diri sendiri. Selama ada amanah, di situ selalu ada peluang lahirnya kesombongan. Kata Nabi SAW.,"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Karena itu, setiap kali kita diberi amanah, sekecil apa pun, marilah kita lebih sering memeriksa hati daripada memeriksa bawahan. Lebih sibuk mengoreksi diri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, kepemimpinan sejati bukan ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa rendah hati kita ketika menjalankannya.

 

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dengan sifat tawadhu, menjauhkan kita dari kesombongan yang pernah membinasakan iblis, dan menjadikan setiap amanah sebagai jalan menuju ridha-Nya, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih mulia daripada sesama. Lebih sering memeriksa hati daripada memeriksa bawahan. Karena musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah lawannya atau bawahannya, melainkan egonya sendiri.

 

Jabatan tidak mengubah karakter seseorang. Jabatan hanya memperlihatkan karakter yang selama ini tersembunyi. Karena itulah kita tidak perlu terlalu sibuk menilai apakah seorang pemimpin telah menjadi sombong. Yang jauh lebih penting adalah bertanya kepada diri sendiri: jika suatu hari Allah memberi saya amanah yang lebih besar, akankah saya tetap mudah menerima nasihat? Masihkah saya menghargai orang lain? Ataukah saya mulai merasa lebih mulia karena sebuah jabatan? Sebab, kesombongan tidak selalu dimulai dari kursi yang tinggi. Ia sering tumbuh diam-diam di dalam hati yang lupa bahwa setiap amanah kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

PUISI UNTUK NEGERI

  Ridwan Taufiq   Untuk negeri yang lebih baik, dengarlah harapan dan keluh ku Kala merajut nikmat kemerdekaan dari penjajahan yang se...