Ridwan Taufiq
Untuk
negeri yang lebih baik, dengarlah harapan dan keluh ku
Kala
merajut nikmat kemerdekaan dari penjajahan yang sekian masa membelunggu.
Saat
jelang usiamu delapan puluh satu yang mulai renta, kulihat keriput wajahmu
Menyimpan
sejarah perjuangan atas jeratan dan penindasan kelam masa lalu.
Tidakkah
menyisakan mutiara ilmu dan filosofi hidup.
Keluhku
melahirkan perasaan susah
dengan
mengaduh, kutarik napas
dan
ungkapan yang keluar karena derita yang berat, dan kesakitan ragamu negeriku.
Keluh kesahku
lahirkan
segala ucap kepedihan gelisah, kesal, dan tak senang atas jiwamu negeriku
ucapan
memanjang seperti gumaman sampaikan pikiran atas nasibmu
hingga
bersenandika bak tokoh dalam drama berbicara dengan dirinya
sebagai ungkapkan rasa, firasat, dan
batin atas mu wahai negeriku.
Keluhku
tak tenteram, rasa khawatir tak tenang, tak sabar dalam menanti masa depanmu.
Cemas
seperti mendengar desas-desus rumah yang akan digusur di belahan bumimu negeriku.
Gelisah dan resah bergabung dalam
keluh
bersama
kecemasan, risau hati, bahkan takut
seperti akan mendengar kabar
berperang
di dalam ragamu sendiri
bahkan ancaman tentang wabah atau
menantikan keputusan akhir riwayatmu.
Rusuh
hati bercampur cemas, negeriku.
kacau,
dalam keadaan tidak aman dan mengikis ketenteraman pengisismu, negeriku
karena
takut hingga menikus, berdiam miliaran
kata.
Namun, harapan lebih baik bagimu
tak pernah lepas menemani dan menghangatkan batinku.
Dirgahayu Rewpublik Indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar