Minggu, 02 September 2018

Proposal Penelitian Skripsi



PEMBELAJARAN MENULIS CERITA PENDEK
BERTOLAK  DARI PERISTIWA YANG PERNAH DIALAMI DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUANTUM WRITING
PADA SISWA KELAS IX SMP MUHAMMADIYAH 6
KABUPATEN BANDUNG
TAHUN PELAJARAN 2017/2018



PROPOSAL PENELITIAN

disusun untuk memenuhi syarat dalam mengikuti seminar proposal









oleh
RIDWAN TAUFIQ
NIM 16210097




PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHSA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN SILIWANGI
BANDUNG
2017

A.  Judul
“Pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami dengan Menggunakan Metode Quantum Writing Pada Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 6 Kabupaten Bandung”.

B.  Latar Belakang Masalah
Latar belakang yang mendorong penulis melakukan penelitian, didasarkan pada beberapa permasalahan. Diantaranya, pertama, terkait peningkatan kompetensi siswa dalam proses edukasi atau kegiatan belajar. Peningkatan kompetensi siswa adalah sesuatu yang niscaya sebagai output dari proses pembelajaran. Seperti halnya yang diungkapkan Nurgiyantoro (2008, hlm. 33) bahwa “Pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar untuk meningkatkan kompetensi siswa”. Sehingga pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mempengaruhi proses belajar dalam diri siswa.
Salah satu pembelajaran di sekolah adalah pembelajaran bahasa dan sastra. Bahasa sebagai sebuah sistem untuk menyampaikan pesan dalam kegiatan komunikasi dalam bentuk lisan dan tulis. Sementara sastra merupakan bentuk bahasa yang mengandung estetika. Kedua hal tersebut tidak hanya diperlukan pada saat mengenyam pendidikan saja,  melainkan lebih dari itu, sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Terdapat empat keterampilan dalam berbahasa. Mendengarkan adalah anugerah pertama dan utama dari Tuhan yang diberikan kepada manusia saat dilahirkan. Kemudian berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menulis, diantara keterampilan berbahasa, sangat diperlukan dalam menyerap informasi yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Karena menulis sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat saat ini, maka perlu kiranya penanaman pembelajaran di sekolah mempertimbangkan aspek perkembangan potensi dan kreativitas siswa dalam menulis. Inilah hal kedua yang mendasari penelitian ini.
Keterampilan menulis sangat diperlukan di sekolah dengan segala aneka macam keterampilan menulis. Selain menulis novel, puisi, dan naskah drama, keterampilan menulis cerpen, diantaranya merupakan bagian pengajaran dalam karya sastra di sekolah. Dalam pembelajaran menulis cerpen siswa harus menuangkan ide-ide cerita serta gagasan dalam bentuk tulisan. Dalam membuat cerpen, siswa juga harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, agar dapat menarik perhatian untuk dibaca orang lain.
Latar belakang ketiga, pembelajaran sastra di sekolah masih menghadapi banyak tantangan. Diantaranya, masih banyak siswa menyatakan kurang puasnya terhadap pembelajaran sastra. Padahal, jika kita cermati mereka mempunyai banyak potensi yang masih dapat dikembangkan yaitu, seperti menulis cerpen bertolak dari peristiwa atau kejadian yang dialami siswa setiap hari. Akan tetapi siswa masih kesulitan dalam menulis cerpen, dikarenakan siswa dalam mengeksplorasi pikiran dan perasaan terdalam belum dituangkan sepenuhnya ke dalam tulisan.
Tantangan lainnya, bahwa di zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang ini, dunia hiburan mudah  diperoleh. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari kegiatan menulis cerpen sangat jarang di lakukan siswa. Mereka beranggapan menulis cerpen merupakan suatu kegiatan yang sangat membosankan. Dalam hal ini disebabkan kurangnya kemauan siswa dalam menulis cerpen. Serta dapat juga disebabkan cara guru dalam mengajar kurang tepat menggunakan metode pembelajaran, serta bisa juga kurangnya ide-ide cerita yang ada di dalam diri siswa.
Keempat, pada umumnya guru dalam menilai kompetensi siswa lebih mengutamakan hasil belajar dan meninggalkan aspek yang justru lebih penting, yakni proses. Sebuah pendekatan Konstruktivisme yang lebih menekankan pada penggunaan teknik atau metode dalam memperoleh hasil belajar secara optimal. Salah satu cara untuk memperbaiki hal itu adalah dengan melakukan perbaikan pada proses pembelajarannya. Salah satu diantara sekian banyak pembelajaran adalah metode Quantum Writing dalam pembelajaran cerpen. Metode Quantum Writing dapat membantu siswa dalam membuat cerpen bertolak dari peristiwa atau kejadian yang dialami siswa setiap hari.
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat  strategi  pencapaian kompetensi  peserta didik dengan pendekatan,  metode, dan teknik pembelajaran.
Kelima, proses pembelajaran pada satuan pendidikan hendaknya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif , menyenangkan, menantang. Selain itu, pembelajaran harus dapat memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Berdasarkan permasalahan pembelajaran menulis cerpen tersebut, penulis ingin mencoba menggunakan metode Quantum Writing, yang diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran menulis cerpen. Pembelajaran Quantum Writing, seperti yang diungkapkan Hernowo (2003, hlm. 10) adalah “Konsep belajar cara cepat untuk merangsang munculnya potensi menulis, yaitu melalui metode menulis yang disajikan secara individual dengan bantuan objek atau gambar untuk menuangkan ide-ide atau gagasan dalam bentuk tulisan”.

C.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan spesifikasi atau penajaman uraian pendahuluan terhadap masalah yang akan diteliti. Dari latar belakang dan permasalahan penelitian di atas, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Bagaimana aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami dengan Menggunakan Metode Quantum Writing?
2.    Bagaimana hasil pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami sebelum dan sesudah Menggunakan Metode Quantum Writing?
3.    Bagaimana respon siswa kelas Kelas IX SMP Muhammadiyah 6 Kabupaten Bandung dalam Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami dengan menggunakan Metode Quantum Writing?

D.  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang hendak dicapai penulis adalah:
1.    Untuk mendeskripsikan aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami dengan Menggunakan Metode Quantum Writing.
2.    Untuk mengetahui hasil pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami sebelum dan sesudah menggunakan Metode Quantum Writing.
3.    Untuk mendeskripsikan respon siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 6 Kabupaten Bandung dalam pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak dari Peristiwa yang Pernah Dialami dengan menggunakan Metode Quantum Writing.

E.  Manfaat Penelitian
Selain memilikii tujuan, penelitian ini juga mempunyai manfaat diantaranya:
1.    Manfaat Praktis
a.    Bagi peneniti
Diharapkan memberi manfaat sebagai berikut :
                                i.       Menambah pengalaman dalam melakukan penelitian tentang pembelajaran menulis cerpen.
                              ii.       Menambah pengetahuan dan kemampuan tentang cara menulis cerpen melalui teknik Quantum Writing .

b.    Manfaat Bagi Siswa
Diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :
i.          Menambah penegetahuan dan kemampuan tentang cara menulis cerpen.
ii.        Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam kaitanya dengan keterampilan menulis cerpen.

c.    Bagi Guru
Diharapkan memberi manfaat sebagai berikut :
i.          Dapat menerapkan teori yang benar tentang cara pembelajaran bahasa berkaitan dengan karya seni, khususnya menulis cerpen.
ii.        Mengukur sejauh mana keberhasilan proses belajar mengajar, khususnya dalam aspek keterampilan cara menulis cerpen.

2.    Manfaat Teoritis
Perkembangan IPTEK sangat didukung oleh perkembangan pendidikan dan komunikasi. Keterampilan menulis yang merupakan salah satu unsur penting pendidikan dan bagian dari sarana komunikassi sangat berperan dalam perkembangan IPTEK. Setiap penemuan dan hasil penelitian dapat disampaikan dan dikomunikasikan kepada masyarakat luas melalui tulisan.

F.   Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah titiik tolak pemikiran yanng dapat diterima oleh penulis. Dalam penelitian ini penulis merumuskan anggapan dasar sebagai berikut:
1.    Pembelajaran menulis Pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami merupakan salah satu materi pelajaran yang terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di level Sekolah Menengah Pertama kelas IX mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang harus dipelajari siswa di semester ganjil.
2.    Keterampilan menulis perlu dipelajari siswa sebagai bekal belajar mereka untuk semua bidang studi.
3.    Guru harus memiliki strategi belajar mengajar agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah menguasai metode mengajar.



G.  Hipotesis
Dugaan sementara/hipotesa terhadap permasalahan penelitian, dan berdasarkan beberapa pengertian di atas, peneliti merumuskan hipotesis ini sebagai berikut:
1.      Metode Quantum Writing Efektif digunakan dalam pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami Siswa pada siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 6 Kabupaten Bandung.
2.      Metode Quantum Writing dapat meningkatkan kemampuan siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 6 Kabupaten Bandung dala menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami.

H.  Definisi Operasional
Untuk memudahkan pemahaman terhadap judul proposal ini perlu kiranya, penulis menjabarkan rumusan operasional tentang istilah-istilah yang penulis gunakan alam penelitian.
1.    Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar untuk meningkatkan kompetensi siswa (Nurgiyantoro, 2000: hlm. 33)

2.    Menulis
Menurut KBBI (2016:V 0.1.5)  menulis adalah membuat huruf (angka dan sebagainya) penggunaan pena: melahirkan pikiran dan perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan, mengarang. Di majalah: mengarang roman (cerita, membuat surat).
Menurut Syamsudin (1994: hlm. 1) menyatakan bahwa menulis berarti menyusun secara cermat buah pikiran ke dalam bentuk tulisan yang beruntun dan secara teratur tentang suatu masalah.

3.    Cerita Pendek (Cerpen)
Menurut KBBI (2016:V 0.1.5) cerita pendek (cerpen) adalah kisahan pendek (kurang dr 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pd suatu ketika).  

4.    Metode Quantum Writing
Metode Quantum Writing/Learning adalah sebuah metode pendekatan belajar yang mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. (DePorter, 2002).

            Berdasarkan uraian di atas Pembelajaran Menulis Cerita Pendek Bertolak  dari Peristiwa yang Pernah Dialami dengan menggunakan  metode Quantum Writing merupakan suatu kegiatan atau proses belajar mengajar yang dapat mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran menulis cerpen. Sebuah konsep belajar yang mudah merangsang munculnya potensi menulis melalui metode menulis yang disajikan secara individual dengan bantuan objek, gambar, atau iringan musik untuk menuangkan ide-ide atau gagasan dalam bentuk tulisan

I.     Landasan Teori
1.    Pengertian Menulis
Menulis merupakan bagian terpenting dalam proses belajar berbahasa. Dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuan. Aktivitas menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan dan keterampilan menyimak, berbicara dan menulis.
Menurut KBBI (2016:V 0.1.5) menulis adalah membuat huruf (angka dan sebagainya) penggunaan pena: melahirkan pikiran dan perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan, mengarang. Di majalah: mengarang roman (cerita, membuat surat).
Menurut Syamsudin (2011: hlm. 1) menyatakan bahwa menulis berarti menyusun secara cermat buah pikiran ke dalam bentuk tulisan yang beruntun dan secara teratur tentang suatu masalah.
Menurut Akhadiah (2003: hlm. 1-2) dengan menulis kita dapat lebih mengenli kemampuan potensi diri kita dalam mengembangkan berbagai gagasan daan bisa lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang kita tulis, dengan demikian kegiatan menulis memperluas wawasan baik secara teoritis maupun mengenai fakta-fakta yang berhubungan. Menulis juga berarti mengorganisasikan gagasan secsra sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat untuk menilai gagasan kita sendiri secara lebih objektif dalam konteks yang lebih konkret, seperti halnya juga sebuah karangan.

2.    Pengertian Cerpen
Menurut KBBI (2016:V 0.1.5) cerita pendek (cerpen) adalah kisahan pendek (kurang dr 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pd suatu ketika). Sedangkan dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia (2004, hlm. 158) diungkapkan bahwa “cerpen adalah cerita rekaan yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada suatu saat, hingga memberikan kesan tunggal terhadap pertikaian yang mendasari  cerita tersebut”.
Cerpen sebagai karya cerita rekaan (fiksi), Mursal Esten (1978, hlm. 11) menjelaskan,
Cerita-rekaan (fiksi ) sering dibedakan atas tiga macam bentuk yakni: cerita pendek (cerpen), novel, dan roman. Akan tetapi di dalam kesusastraan  Amerika umpamanya hanya dikenal istilah: cerpen (shot story) dan novel. Istilah roman tidak ada. Perbedaan antara ketiga bentuk cerita rekaan itu tidaklah hanya pada panjang pendeknya cerita tersebut. Atau pada jumlah kata-katanya. Ada ukuran lain yang membedakannya. Cerita pendek (cerpen) merupakan pengungkapan suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Daripadanya tidak duituntut terjadinya suatu perobahan nasib dari pelaku-pelakunya. Hanya satu lintasan dari secercah kehidupan manusia, yang terjadi pada suatu kesatuan waktu.

Senada dengan Esten, Nurgiyantoro dalam Teori Penggkajian Fiksi (2002, hlm. 9) mengungkapkan bahwa “Novel (inggris: novel) dan cerita pendek (disingkat: cerpen; Inggris: shot story) merupakan karya sastra yang sekaligus disebut fiksi.”
Cerpen, sesuai dengan namanya, adalah cerita pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tak ada kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli. (Nurgiyantoro, 2002: 10). Edgar Allan Poe mengungkapkan bahwa “cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam – suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.”
   Umumnya panjang cerpen berkisar 500-an kata. Walaupun ada cerpen yang ribuan kata (midle shit story) bahkan puluhan ribu kata (long shit story). Panjang pendeknya cerita pendek, seperti halnya novel, sebagai sebuah cerita rekaan dibangun oleh unsur-unsur pembentuk: unsur intrinsik dan ekstrinsik.  

J.    Metode dan Teknik Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang merupakan turunan dari pendekatan kuantitatif. Metode ini  memiliki ciri-ciri adanya uji coba pada dua variabel dalam penelitian ini. Adapun kedua variabel tersebut adalah menulis Cerita Pendek Bertolak dari Peristiwa yang dialami sebagai variabel terikat dan metode Quantum Writing sebagai variabel bebas.
O1 x O2

Dari metode ini, munculah desain eksperimen yang akan digunakan dalam penelitian yaitu one group pretest-posttest design,  dengan model seperti berikut ini:



Keterangan :
O1= Pretest
O2= Posttest
X= Formula/teknik yang digunakan.
Artinya membuat perbandingan antara variabel terikat sebelum dan sesudah menggunakan variabel bebas sebagai formulannya.
           
K.  Populasi dan Sampel
Babbie (Sukardi, 2011, hlm. 53) mengungkapkan bahwa “Populasi adalah elemen penelitian yang hidup dan tinggal bersama-sama dan secara teoretis menjadi target hasil penelitian.” Pada prinsipnya, populasi adalah keseluruhan objek/subjek yang diteliti, sementara sampel adalah sebagian dari populasi yang bersifat refresentatif (mewakili). Dalam penelitian ini populasi yang diteliti adalah siswa kelas IX yang berjumlah 83 orang. Jumlah tersebut terbagi dalam dua rombel: IXa dan IXb. Sebagai Sampel, sebanyak 43 (50%) orang atau satu rombel, yakni kelas IXa yang dianggap refresentatif untuk mewakili populasi yang diteliti.

L.  Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang menurut Sukardi (2011, hlm. 182), penelitian eksperimen ini biasanya melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
2.    Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah
3.    Melakukan studi literatur dari berbagai sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
4.    Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
a.    Mengidentifikasi variabel
b.    Memilih rancangan penelitian yang tepat
c.    Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian
d.   Membuat instrumen, memvalidasi instrumen, dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan
e.    Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data, dan menentukan hipotesis.
5.    Melaksanakan eksperimen
6.    Mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen
7.    Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan
8.    Melakukan nalisis data dengan teknik statistika yang relevan.
9.     Membuat laporan penelitian eksperimen.

M. Instrumen Penelitian
            Instrumen adalah alat, sarana, atau media. Dalam KBBI instrumen adalah sarana penelitian (berupa seperangkat tes dsb) untuk mengumpulkan data sebagai bahan pengolahan. Secara fungsional menurut Sukardi (2011, hlm. 74) bahwa “Kegunaan instumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti sudah menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan.”
Berdasarkan pernyataan di atas, instrumen penelitian adalah alat yang sangat penting dalam mengumpulkan data suatu penelitian. Pemilihan instrumen juga harus dipertimbangkan apakah sesuai atau tidak dengan penelitian yang sedang dilakukan. Hal itu dilakukan agar tidak menyesatkan peneliti. Data yang dihasilkan dari instrumen penelitian harus menghasilkan data yang empiris. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.      RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) KTSP mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IX semester ganjil SMP Muhammadiyah 6 Kabupaten Bandung.
2.      Soal dan pedoman penilaian.
3.      Lembar observasi.
4.      Lembar angket.

N. Teknik Pengolahan Data
            Pengolahan data kuantitatif melalui tahapan-tahapan berikut:
1.    Pengelompokan data (data pretest dan data posttest) meliputi:
a.    Data terendah dan tertinggi
b.    Menentukan mean, median, dan modus
c.    Menghitung standar deviasi
d.   Menghitung presentase
2.    Proses tabulasi data. Tabulasi data merupakan proses pengolahan data yang dilakukan dengan cara memasukkan data ke dalam tabel. Atau dapat dikatakan bahwa tabulasi data adalah penyajian data dalam bentuk tabel atau daftar untuk memudahkan dalam pengamatan dan evaluasi. Hasil tabulasi data ini dapat menjadi gambaran tentang hasil penelitian, karena data-data yang diperoleh dari lapangan sudah tersusun dan terangkum dalam tabel-tabel yang mudah dipahami maknanya. Selanjutnya peneliti bertugas untuk memberi penjelasan atau keterangan dengan menggunakan kalimat atas data-data yang telah diperoleh.
3.    Perhitungan statistik

O. Jadwal Penelitian
No.
Kegiatan
Bulan
Juni
Juli
Agust
Sept
Okt
Nov
1.
Penyusunan proposal
Ö





2.
Seminar proposal
Ö





3.
Penyusunan instrumen

Ö




4.
Pengumpulan data


Ö



5.
Pengolahan data dan penarikan simpulan



Ö
Ö

6.
Pembuatan laporan



Ö
Ö
Ö




P. Daftar Pustaka
BP2B Kemdibud RI. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (V 0.1.5)[Online]. Tersedia di http://kbbi.kemdikbud.go.id.
Chaer, A. (2003). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.
DePorter, B. & Hernacki, M. (2002). Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Djojosuroto, K. & Sumaryati, M.L.A. (2004). Prinsip-prinsip Dasar dalam Penelitian Bahasa dan Sastra. Bandung: Nuansa
Dewan Redaksi. (2004). Ensiklopedia Sastra Indonesia.. Bandung: Titian Ilmu
Esten, M. (1976). Kesusastraan: Pengantar Teori & Sejarah. Bandung: Angkasa.
Hernowo. (2002a). Mengikat Makna: Kiat-kiat untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Bandung: Kaifa.
Hernowo. (2003b). Quantum wiriting. Bandung : MLC
Mulyasa, E. (2010). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Suatu Panduan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Nurgiyantoro, B. (2002). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sukardi. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sukmara, D. 2007. Implementasi Life Skill dalam KTSP. Bandung: CV. Mughni Sejahtera
Suryadi, M. & Mabroer, A. (2007). Mari Menulis. Bandung: PT Pribumi Mekar.
Suyatno. (2010). Teknik Pembelajaran Bahasa Dan Sastra. Surabaya: Penerbit SIC.
Thahar, H. E. (1999). Kiat Menulis Cerita Pendek: Teori dan Aplikasi. Bandung: Angkasa.



LEMBAR PENGESAHAN


PEMBELAJARAN MENULIS CERITA PENDEK
BERTOLAK  DARI PERISTIWA YANG PERNAH DIALAMI DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUANTUM WRITING
PADA SISWA KELAS IX SMP MUHAMMADIYAH 6
KABUPATEN BANDUNG
TAHUN PELAJARAN 2017/2018


oleh
Ridwan Taufiq
NIM 16210097


disetujui

Penguji 1




Dr. Hj. Ika Mustika, M.Pd.
NIP. 196803041992032002

Penguji 2




R. Mekar Ismayani, M.Pd.
NIDN: 0429068202

                                                                                   




                                                                                                 

Kamis, 18 Mei 2017

Literasi



MEMBANGUN BUDAYA LITERASI
DI SMP MUHAMMADIYAH 6 BALEENDAH

Oleh: Ridwan Taufiq





Kondisi Umum Sekolah

          SMP Muhammadiyah 6 Baleendah adalah satu dari sekian banyak sekolah swasta di Gugus I di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung. Sekolah yang berlokasi di sebuah Dusun/Desa terpencil di baleendah ini menjadi sekolah alternatif bagi masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Saat banyak bertengger sekolah negeri di setiap titik, yang tetap saja walau sudah gratis, seakan tetap menyiratkan harga mahal untuk setiap momentum lainnya. Maka SMP Muhammdiyah 6 Baleendah menjadi jalan keluar bagi mereka, namun tetap orang tua menggiringkan anaknya dengan harapan terbentuk menjadi pribadi berakhlak mulia.
         
          Siswa yang datang tersebar dari berbagai kampung, desa, bahkan lintas kecamatan, membawa sekian banyak perbedaan kualitas (input). Mereka didatangkan dari keluarga yang tidak hanya melatar belakangi kondisi ekonomi. Keterikatan organisasi, diantaranya, menjadi perekat untuk tetap tegaknya visi dan tujuan mendirikan sekolah ini. Terbukti dengan terus menerusnya mendapatkan bantuan dalam pengembangan bangunan sekolah, karena derasnya siswa yang berdatangan dari tahun ke tahun. Tidak hanya itu, usaha dan kerja keras Kepala Sekolah, sebagai seorang da’i, melalui pengajian dari masjid ke masjid, menjadi bagian yang mendukung dalam sosialasasi visi dan misi SMP Muhammadiyah 6 Baleendah. Pada saat yang bersamaan, sosialisasi itu telah mengantarkan hati masyarakat/jamaah dalam mengenal sekolah ini dan mendaftarkan anak-anaknya.

Maka, penulis berkeyakinan, bahwa SMP Muhammadiyah 6 Baleendah, yang sejak 1987 sampai sekarang dan yang akan datang, akan terus tegak dan tidak akan punah dalam visi misinya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa sebagai amanah dakwah Persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu pula, hal itu dalam kerangka mewujudkan tujuan Pendidikan nasional sebagai amanah Undang-Undang Dasar 1945. Salah satunya menciptakan manusia yang berkualitas, yaitu manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Program Pembiasaan Sekolah

Kondisi di atas memberikan peluang sekolah untuk terus menerus bergerak melakukan pengembangan. Mulai dari Pengembangan kurikulum yang adaptif dan proaktif, Pengembangan sarana dan prasarana yang memadai, pengembangan media pembelajaran, kelembagaan sekolah, dan managemen yang mengedepankan ketangguhan, transparansi, akuntabel dan amanah. Termasuk di dalamnya pengembangan berbagai  program pendidikan dan pembiasaan sekolah; Sholat Berjamaah, Membaca Al-Qur’an, Sabtu Bersih, Membaca buku 10 menit sehari, Membentuk kelompok kecil Club Reading Habit.

Dua program terakhir diatas yang akan menjadi sorotan dalam penulisan ini, sebagai tinjauan kondisi real dalam program membiasakan membaca (Reading Habit) di SMP Muhammadiyah 6 Baleendah. Dengan keyakinan bahwa pembiasaan ini akan menjadi proses dalam pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang, baik dilakukan secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Pun, program tersebut juga akan menghasilkan pengembangan karakter peserta didik dengan membiasakan perilaku positif yakni membaca dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat penting untuk membuat Kegiatan Pembiasaan Sekolah secara terprogram.

Istilah Literasi

Sebelum muncul istilah Literasi, kebiasaan membaca sudah mulai dicanangkan secara kultural, artinya belum terstruktur atau terprogram. Kegiatan membaca dilakukan secara pribadi atau sendiri- sendiri berdasarkan ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia  – karena secara kebetulan penulis adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia – yang mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis.

Karena secara kultural, penulis menemukan beberapan siswa yang telah memiliki minat dan bakat serta kebiasaan membaca. Namun karena tidak terpadu dan tidak terprogram, maka tidak memiliki target. Tujuan akhir membaca pun, kabur. Akan di apakan setelah membaca? Kemudian bagaimana? Dan banyak lagi pertanyaan siswa yang terlempar yang, selaku guru bahasa, penulis kesulitan menjawabnya selain, ya ... baca lagi ... terus ... dan ... terus membaca. Kondisi ini berakibat kegiatan tidak menemukan muara yang dapat memberikan pelajaran dan hikmah setelah kegiatan membaca. Maka bukan tidak mungkin, lambat laun membaca akan tetap menjadi kegiatan yang memuakan, menjemukan dan tidak menarik bagi keseluruhan siswa. Karena, tentu saja, kegiatan ini hanya berdasarkan pada kewajiban intra kurukuler, bahwa pada akhir pendidikan di SMP/MTs, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra (Standar Isi KTSP 2006).

Tanpa disadari, ternyata 4 komponen bahasa (Mendengarkan/menyimak, membaca, berbicara, dan menulis) – membaca beberapa definisi para ahli bahasa – adalah Literasi. Sebuah istilah yang secara pribadi sudah tidak asing bagi penulis dalam dunia teks/bahasa pada masa perkuliahan. Namun istilah ini belum masuk ke dunia sekolah. Istilah Literasi mungkin baru mulai terdengar setelah muncul kurikulum 2013.
 
Upaya Membangun Budaya Literasi

          Program pembiasaan literasi di SMP Muhammadiyah mulai dibangun secara struktural pada Tahun 2014. Program pembiasaan Literasi mulai serius saat sekolah mengikuti Program Leader’s Reading Challenge (LRC) Kabupaten Bandung. Sebuah program yang merupakan tantangan untuk para siswa di sekolah untuk mendorong tumbuh kembangnya kemampuan literasi ( membaca dan menulis). Selain itu diharapkan siswa dapat membaca buku lebih banyak dan menemukan banyak hal baru yang menyenangkan dan bermanfaat di dalamnya. Tak hanya itu, berharap agar dapat mendorong peningkatkan keterampilan berdiskusi (berbicara) yang positif dalam lingkungan sekolah dan keluarga.

Tentu, bukan hal yang mudah dan tanpa masalah saat penulis membimbing 5 siswa untuk diikut-sertakan dalam program tersebut. Beberapa permasalah yang muncul, diantaranya :
1.    Menentukan buku bacaan yang sesuai bagi siswa SMP. Kemanfaatan dan juga tingkat ketebalannya. Termasuk ketersediannya di perpustakaan.
2.    Jadwal diskusi agak menjadi persoalan. Karena harus di luar jam pelajaran. Pembimbing  agak kesulitan kalau harus mengganggu jam pelajaran anak-anak.
3.    Review buku, sempat menjadi hal yang cukup membebankan, karena pembimbing harus mengetik review buku siswa.
4.    Keterbatasan biaya & fasilitas sekolah pun menjadi bagian hambatan yang pada akhirnya harus ditanggulangi sendiri. 

Sekian permaslahan bukan tidak ada pemecahan. Pemikiran pembimbing berpaut pada semangat siswa yang gigih dalam menikmati bukunya, yang secara bersamaan berbalik menimbulkan semangat pembimbing sendiri. Maka, kegiatan pun terus berlanjut.

Beberapa catatan dalam proses bimbingan yang barangkali menjadi poin penting dalam keberlanjutan bimbingan, diantaranya :
1.    Memberikan pemahaman, agar buku dipandang sebagai bagian dari kebutuhan hidup. Buku hendaknya dipandang sebagai 'makanan' yang mengandung banyak nutrisi bermanfaat untuk hidup.
2.    Merubah presepsi, agar buku menjadi dunia yang mengasyikan, menyenangkan, menghibur, dan sebagai teman setia.
  1. Memberikan arahan tentang jadwal membaca, target lembar buku yang akan dibaca setiap hari, dan target berapa buku yang akan habis dibaca dalam satu bulan.
  2. Memberikan beberapa contoh review yang dibuat sendiri oleh pembimbing dan model lain sebagai pembanding.
  3. Memberikan model berbicara dalam diskusi pada peserta bimbingan tentang bagaimana mempresentasikan buku yang dibaca

Penyedian buku-buku yang sesuai dengan minat siswa, sebagai pembimbing, penulis sengaja membeli beberapa buku dan buku-buku yang sudah tersedia di rak buku pribadi. Selain itu pula, siswa diajak mengunjungi perpustakaan terdekat. Kebetulan di desa tetangga terdapat perpustakaan yang, sekalipun tidak tertata dan terpadu, yang menyediakan buku-buku yang cocok dan sesuai dengan keingan, minat serta bakan siswa.

Kegiatan lain yang mendukung budaya Literasi adalah menjelajah seluruh siswa untuk memegang minimal satu buku untuk dihabiskan dalam satu bulan. Dengan bentuan dan kerja sama para wali kelas, semua siswa sudah memiliki satu buku. Kegiatan membaca dilakukan 10 menit sebelum jam pelajaran pertama. Selain itu direncanakan secara berkala akan digelar membaca secara masal di lapangan. Seselai membaca akan dijadwalkan satu atau dua orang siswa, perwakilan, kelas untuk mempresentasikan buku yang telah dibacanya. Aspek menulis, disediakan mading IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) kolom resensi.

Tentu proses bimbingan penulis masih jauh dari kesempurnaan. Di akhir program, sebagai pembimbing, tidak ada yang lebih menggembirakan sebagai hadiah selain anak bimbingannya mencapai target. Akhirnya 3 dari lima siswa tuntas target 24 buku dalam jangka waktu 10 bulan, kurang dari setahun, lengkap dengan Reviewnya. Dua dari ketiga siswa terpilih mendapat kesempatan seleksi presentasi buku di tingkat Gugus, dan satu orang meraih juara II. Kemudian berlanjut mendapat kesempatan kedua, seleksi tingkat kabupaten dengan meraih juara harapan tiket Australia. Di tahun berikutnya, 2015, 1 orang siswa, bimbingan berikutnya, mendapat kesempatan mempresentasikan buku di hadapan siswa-siswa se-kabupaten Bandung dalam acara Semarak Buku di Gedung Boedaya Sabilulungan BAPAPSI Kabupaten Bandung. (13/01/16)

-o0o-

TUGAS PROYEK MENYAJIKAN TEKS DESKRIPSI LISAN (VLOG)

Murid SMPN 1 Pameungpeuk Kelas 7a - 7d