Oleh: Ridwan Taufiq
“Kalian siap jadi KM?” Saya
bertanya pada lima bakal calon ketua kelas hasil pengumpulan suara terbanyak sistem
formatur.
“InsayAlloh, siap, pa” salah satu
siswa menjawab.
“Kamu?” saya coba bertanya pada
salah satu balon yang juga terpilih dalam formatur.
“Emmh …. Siap, pa.” Jawabnya agak
lama. Beberapa calon lain saya tanya, jawabannya tidak siap karena ini amanah
yang berat katanya.
“Baik, dari kelima balon ini, dua
hari lagi kita akan menentukan siapa calon Ketua Kelas kita.”
Beberapa hari kemudian seorang
siswa mulai mengatur teman-temannya padahal belum terpilih. Siswa yang lainnya
yang justru menolak menjadi ketua tetapi akhirnya mampu menjalankan amanah
dengan baik. Inilah potret kecil saat di kelas mengadakan pemilihan ketua kelas
di awal tahun ajaran.
Awal tahun ajaran selalu
menghadirkan suasana yang khas. Wajah-wajah baru di kelas, semangat yang masih
segar, serta harapan agar satu tahun ke depan berjalan dengan baik. Bagi seorang
wali kelas, ada satu kegiatan yang hampir selalu dilakukan pada hari-hari
pertama, yaitu membentuk kepengurusan kelas.
Sekilas kegiatan ini
tampak sederhana. Bagi penulis sebagai wali kelas, di sinilah proses belajar
kepemimpinan pertama kali akan dimulai. Menentukan ketua kelas atau ketua murid
(KM) sepertinya bukan sekadar memilih siapa yang paling pintar atau paling
berani berbicara. Namun lebih dari itu, kegiatan ini akan sangat menentukan
bagaimana keterjalinan antar siswa, kerja sama, komunikasi, dan interaksi pembelajaran
dapat tumbuh di dalam kelas.
Menariknya, setiap kali proses
pemilihan berlangsung, saya selalu memperoleh kesempatan untuk mengamati
karakter para siswa. Ada yang sejak awal tampak begitu ingin menjadi pemimpin. Ia
tidak mengatakannya secara langsung, tetapi bahasa tubuhnya menunjukkan keinginannya.
Ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan, namun masih dipenuhi pertimbangan.
Mereka tampak ragu menerima amanah, tetapi ketika diberi kepercayaan justru
mampu menjalankannya dengan baik.
Di tengah proses itu, saya sering
menemukan satu gejala yang patut diwaspadai. Benih-benih kesombongan kadang
mulai terlihat. Bukan dalam bentuk ucapan yang kasar atau terang-terangan
merasa paling hebat, melainkan melalui sikap yang mulai ingin lebih menonjol,
ingin lebih dihargai, atau mulai memandang dirinya lebih layak dibanding
teman-temannya.
Di sinilah saya menyadari bahwa
kepemimpinan selalu membawa ujian. Jabatan sekecil apa pun dapat menjadi pintu
masuk bagi tumbuhnya rasa sombong apabila tidak disertai kesadaran bahwa
kepemimpinan adalah amanah, bukan kemuliaan pribadi.
Fenomena kecil di ruang kelas itu
sesungguhnya merupakan miniatur kehidupan yang lebih luas. Apa yang terjadi di
kelas sering kali kita temukan pula di lingkungan masyarakat. Mulai dari
kepemimpinan di tingkat RT, RW, desa atau kelurahan, kecamatan, kabupaten,
provinsi, hingga kepemimpinan nasional. Bedanya hanya pada skala dan dampaknya.
Hakikat ujiannya tetap sama: apakah jabatan menjadikan seseorang semakin rendah
hati atau justru semakin tinggi hati.
Islam sejak awal telah mengingatkan
bahaya kesombongan. Rasulullah SAW bersabda,“Tidak akan masuk surga
seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka memakai pakaian
dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah
dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang
lain.” (HR. Muslim)
Ucapan Nabi SAW. lima
belas abad lalu ini memberikan penjelasan yang sangat penting, bahwa kesombongan
bukan diukur dari pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dimiliki, atau
penampilan yang mewah. Kesombongan adalah ketika seseorang menolak kebenaran
dan merendahkan orang lain.
Sikap inilah yang dahulu
menjerumuskan iblis. Ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam
karena merasa dirinya lebih mulia. Kesombongan membuatnya tidak lagi mampu melihat
kebenaran, melainkan hanya melihat kelebihan dirinya sendiri, sekaligus
merendahkan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, salah
satu pemicu terbesar munculnya kesombongan adalah jabatan. Jabatan memang dapat
mengangkat derajat seseorang di mata manusia, tetapi pada saat yang sama juga
menjadi ujian yang sangat berat di hadapan Allah. Ketika jabatan dipahami
sebagai amanah, ia akan melahirkan pelayanan, keteladanan, dan menumbuhkan berbagai
kebaikan yang bernilai pahala. Sebaliknya, ketika jabatan membuat seseorang
merasa lebih tinggi, enggan menerima kritik, atau memandang rendah bawahannya,
saat itulah ia sedang berjalan menuju kesombongan.
Kita tentu masih sering
menyaksikan berbagai persoalan di negeri ini. Di bidang politik, misalnya, polarisasi
yang berkepanjangan membuat perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan.
Kritik yang seharusnya menjadi vitamin demokrasi kadang dipandang sebagai
ancaman. Di sisi lain, sebagian masyarakat pun kehilangan kepercayaan karena
merasa suaranya tidak lagi didengar.
Dalam bidang ekonomi, masih
ada jurang kesejahteraan yang lebar. Di tengah pertumbuhan dan pembangunan yang
terus berlangsung, masih banyak warga yang berjuang memenuhi kebutuhan
hidupnya. Kebijakan yang kurang peka terhadap kondisi masyarakat kecil sering
kali menimbulkan kesan bahwa keputusan dibuat dari balik meja, bukan dari
denyut kehidupan rakyat.
Dalam kehidupan sosial, kita
juga menyaksikan meningkatnya sikap saling merendahkan, mudah menyalahkan, dan
enggan berdialog, serta mempertahankan ego. Perbedaan pendapat lebih sering
dibalas dengan cemoohan daripada argumentasi. Budaya saling mendengar, pun
perlahan digantikan oleh keinginan untuk selalu menang.
Tentu, semua persoalan itu
tidak dapat disederhanakan sebagai akibat kesombongan seorang pemimpin. Banyak
faktor yang memengaruhinya. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa
ketika seorang pemimpin enggan menerima kritik, merasa paling benar, atau
memandang rendah suara orang lain, keadaan biasanya akan semakin memburuk. Jika
pemimpin tidak menyadari kekurangan dan kesalahannya, alih-alih membuka diri
untuk diperbaiki malah menutupinya dengan topeng kesempurnaan. Penuh
pencitraan. Maka, perlahan kehancuran tinggal menunggu saatnya.
Kesombongan membuat telinga
tertutup, sedangkan kepemimpinan justru membutuhkan kemampuan untuk mendengar. Karena
itu, seorang pemimpin yang rendah hati bukanlah pemimpin yang tidak pernah
salah, melainkan pemimpin yang bersedia dikoreksi. Ia tidak menganggap kritik
sebagai ancaman, tetapi sebagai cermin. Ia tidak merasa paling mengetahui
segala hal, tetapi sadar bahwa keputusan terbaik sering lahir dari musyawarah
dan kesediaan mendengarkan.
Banyak
negara hancur bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu
banyak pemimpin yang merasa dirinya paling benar. Ketika seorang pemimpin
berhenti mendengar, saat itulah kesombongan mulai mengambil alih
kepemimpinannya. Ironisnya, kesombongan
dalam kepemimpinan sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Ia merasa sedang
menunjukkan kewibawaan, padahal orang lain merasakan kesewenang-wenangan. Ia
menganggap sedang menjaga martabat jabatan, padahal sesungguhnya sedang
memelihara ego.
Karena itulah, lawan terbaik dari
kesombongan adalah rendah hati atau tawadhu.
Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menyadari bahwa semua
kelebihan berasal dari Allah dan setiap manusia memiliki kemuliaannya
masing-masing.
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,“Tahukah
kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumahmu lalu bertemu
seorang muslim, kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”
Ungkapan ini mengajarkan
cara pandang yang indah. Ketika bertemu orang lain, kita tidak sibuk mencari
kekurangannya, melainkan berusaha meyakini bahwa mungkin saja ia lebih baik di
hadapan Allah daripada diri kita.
Barangkali, inilah pelajaran paling
penting dari proses memilih ketua kelas di awal tahun ajaran. Kepemimpinan
bukanlah tentang siapa yang paling ingin berada di depan, melainkan siapa yang
paling siap melayani. Jabatan bukanlah panggung untuk meninggikan diri, tetapi
kesempatan untuk memperbanyak manfaat.
Semakin tinggi posisi seseorang,
seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya. Sebab masyarakat tidak hanya
membutuhkan pemimpin yang cerdas, melainkan juga pemimpin yang mau mendengar,
mau menerima kebenaran, dan tidak merasa dirinya selalu benar bahkan
merendahkan orang lain.
Dari
ruang kelas itulah saya belajar bahwa benih kepemimpinan tumbuh bersamaan
dengan datangnya sebuah ujian. Ujian itu bukan hanya tentang kemampuan
memimpin, melainkan juga kemampuan mengendalikan kesombongan.
Menjadi renungan bagi kita,
untuk bercermin bukan menyalahkan orang lain. Jangan-jangan benih kesombongan itu bukan hanya ada pada para pemimpin
besar, tetapi juga mulai tumbuh dalam diri kita ketika diberi amanah sekecil
apa pun.
Dan
rasanya tidak adil jika tulisan ini hanya diarahkan kepada mereka yang memimpin
di ruang-ruang publik. Sebab, sesungguhnya kita semua adalah pemimpin. Ada yang
memimpin keluarga, memimpin kelas, memimpin organisasi, memimpin sekolah, memimpin
sebuah tim kerja, bahkan memimpin diri sendiri. Selama ada amanah, di situ
selalu ada peluang lahirnya kesombongan. Kata Nabi SAW.,"Setiap kalian adalah pemimpin, dan
setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena
itu, setiap kali kita diberi amanah, sekecil apa pun, marilah kita lebih sering
memeriksa hati daripada memeriksa bawahan. Lebih sibuk mengoreksi diri daripada
mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, kepemimpinan sejati bukan ditentukan
oleh seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa rendah hati kita ketika
menjalankannya.
Semoga
Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dengan sifat tawadhu, menjauhkan kita
dari kesombongan yang pernah membinasakan iblis, dan menjadikan setiap amanah
sebagai jalan menuju ridha-Nya, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih mulia
daripada sesama. Lebih sering memeriksa hati daripada memeriksa bawahan. Karena musuh
terbesar seorang pemimpin bukanlah lawannya atau bawahannya, melainkan egonya
sendiri.
Jabatan
tidak mengubah karakter seseorang. Jabatan hanya memperlihatkan karakter yang
selama ini tersembunyi. Karena itulah kita tidak perlu terlalu sibuk
menilai apakah seorang pemimpin telah menjadi sombong. Yang jauh lebih penting
adalah bertanya kepada diri sendiri: jika suatu hari Allah memberi saya amanah
yang lebih besar, akankah saya tetap mudah menerima nasihat? Masihkah saya
menghargai orang lain? Ataukah saya mulai merasa lebih mulia karena sebuah jabatan?
Sebab, kesombongan tidak selalu dimulai dari kursi yang tinggi. Ia sering
tumbuh diam-diam di dalam hati yang lupa bahwa setiap amanah kelak akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.